Adakah Yang Disebut Musik & Musisi Sampah?

Selasa, 22 Februari 2011
Adakah Yang Disebut Musik & Musisi Sampah?
DALAM beberapa dialog santai, beberapa musisi mengeluh karena industri musik Indonesia sekarang makin banyak “musik sampah” yang disukai. Mereka menuding, industri sekarang lebih banyak mengakomodir musisi dan musik sampah. Sebuah pernyataan yang buat saya cukup mengejutkan, meski bukan kali pertama diucapkan oleh musisi yang mengganggap dirinya bukan sampah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], sampah diartikan “kotoran atau sisa-sisa dari pekerjaan yang harus dibuang”. Sementara menurut Wikipedia, “Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses.” Lalu musik atau musisi sampah apakah bisa diartikan, musik kotor atau sisa-sisa dari pekerjaan [dalam hal ini tentu proses musikal] yang harus dibuang? Terlalu kasar bukan untuk mengatakan hal itu kepada musisi atau musik yang dianggap tidak berbobot dan hanya mengikuti trend industri saja?

Tanpa menyebut nama band-pun, rasanya kita bisa menebak siapa yang dimaksud. Tanpa bermaksud berdiri di salah satu pihak, saya mencoba mengkritisi pernyataan yang menohok itu. Dalam perjalanan industri musik yang saya ikuti, perkembangan trend memang silih bergenti. Ini bukan sesuatu yang baru sebenarnya.  Saling mengklaim sebagai yang paling berbobot ini pernah terjadi di era 70-an ketika rocker Deddy Stanza menyebut musik dangdut Rhoma Irama lewat Soneta-nya sebagai musik kampungan [dan comberan]. Toh akhirnya Rhoma bisa membuktikan eksistensinya sampai sekarang.

Tentu tidak arif juga kasuistis itu dijadikan pembanding. Tapi saya amat meyakini, trend musik sekarang sebenarnya adalah roda yang terus menggelinding. Dalam artian, perputaran trend itu akan berhenti di satu titik dan berganti dengan trend baru, apapun itu. Apakah kemudian ketika trend baru itu kelak muncul, akan ada klaim soal musik dan musisi sampah juga?

Lalu mengapa ada sebutan sampah itu? Saya melihat hanya kasuistis saja. Artinya, tidak semua musisi berpendapat seperti itu. Banyak yang melatarbelakangi mengapa sebutan itu terucap. Karena kegelisahan dan kejengkelan dengan industri musik yang tidak berani bergerak menciptakan trend baru. Kemudian gelisah melihat sisi musikalitas dan skill yang kerap terabaikan, hanya mengandalkan lagu sederhana, kord 3 kunci, dan ngehits.Tidak salah, tapi kemudian jadi persoalan ketika mereka tidak lahir sebagai musisi entertainer dan memang sungguh-sungguh ingin berkiprah di industri. Modalnya adalah keberuntungan dan nepotisme.

Nepotisme? Benar. Banyak band atau penyanyi baru lahir karena karena kakak, adik, atau orangtuanya duluang ngetop [dan masih ngetop]. Akses yang dimiliki, membantu keluarganya untuk bisa menembus industri. Berhasil sukur, tidak berhasil pun tidak masalah karena sudah pernah mencoba.  Apakah hal ini salah? Tentu saja tidak. Yang salah adalah ketika tidak mempersiapkan diri dengan matang. Baik secara karya atau skill yang cukup. Banyak kok nepotisme di musik, tapi banyak yang eksis karena memang punya talenta dan punya kemampuan yang bagus. Artinya, tidak aji mumpung dan tidak numpang lewat doang.

Kembali ke musik dan musisi sampah. Sudut pandang ini bisa dicermati dari banyak sudut. Dari kacamata musisi yang dianggap pakar dan ahli, musik yang sederhana kerap dianggap kacang. Meski mereka juga kerap mengakui, tidak mudah menciptakan karya yang mudah dan disukai banyak orang. Musik yang berkelas sering diasumsikan dengan cutting edge, non-mainstream, tidak bisa, tidak pasaran. Makin rumit, njlimet, susah diikuti, berarti makin berkelas. Diluar itu apakah pantas disebut sampah?

Maaf tidak sependapat. Buat saya, seni untuk seni. Apapun hasilnya, sebuah karya sudah menjadi karya. Dan karya itu layak diapresiasi. Soal diterima atau tidak di masyarakat, bukan kita yang menjadi jurinya. Jadi ketika seorang musisi menyebut karya musisi lain [yang dianggap kelasnya dibawah dia] sebagai sampah, saya menganggap, itu sebagian kecil orang yang tidak sanggup memberi apresiasi saja. Saya menghargai dan mengapresiasi musik dan musisi yang berkarya, “seaneh” apapun karya mereka. So, jangan pernah berhenti berkarya kalau begitu…..[djoko moernantyo/twitter: @jokoisme]
comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini