Jadilah 'PEMBERONTAK' Musikal

Kamis, 24 Februari 2011
Jadilah 'PEMBERONTAK' Musikal
MARI KITA MEMBERONTAK! AJAKAN saya ini bukan omong kosong loh. Saya amat serius. Tapi bukan membuat gerakan untuk demo besar-besaran seperti di Mesir yang sukses melengserkan Hosni Mobarak. Saya mengajak kamu, siapapun itu, yang tertarik dengan musik atau bahkan kamu adalah musisi, untuk memberontak lewat musik. Tidak usah apriori dengan kata pemberontakan, karena itu adagium yang amat biasa kok. 

Lalu mengapa saya mengajak musisi untuk jadi “pemberontak” ya? Di dunia ini, kamu pasti amat familiar dengan ungkapan ‘musik itu universal’ dong. Dan saya mengamini hal itu. Musik [harusnya] bisa jadi saluran pelepasan dari kesumpekan, kepenatan, stress dan semua hal yang membuat kita meledak. Jadi, marilah memberontak lewat musik. Masih ragu?

Begini saja. Kamu pasti sudah paham, musik adalah salah satu bentuk kesenian yang paling populer di dunia hiburan. Setiap kelompok usia dapat menikmatinya dengan nyaman. Tentu saja karakter musikalnya juga disesuaikan. Musik juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan remaja di era sekarang.

Sayangnya tidak sedikit, musisi yang “menyelewengkan” musik untuk mempopulerkan kekerasan bahkan mempromosikan kekerasan. Tidak secara langsung, tapi lirik yang berkonotasi keras, liar dan tanpa tedeng aling-aling, biasanya bisa menenggelamkan keindahan sebuah karya musikal itu sendiri. Padahal, musisi dan musiknya bisa jadi duta besar yang amat kuat bagi pemujanya.

Padahal pemberontakan itu bisa diarahkan dalam lini yang lebih  positif, ketimbang menjadi anasir-anasir pengacau, meski tetap berkedok musik. Coba, siapa yang sangkal, salah satu cara yang paling populer untuk mengekspresikan pemberontakan tersebut adalah melalui musik? Bahkan dalam agenda-agenda politik pun, lagu yang didisain khusus sebagai publisitas dan propaganda kepentingan politik, bisa mengobarkan pemberontakan. Tapi saya tidak akan mengajak ke area itu.

Saya selalu membayangkan, apakah 200 tahun yang lalu, ketika Mozart dan komposer besar lainnya menciptakan musik klasik itu, apakah juga bagian dari pemberontakan mereka sebagai anak muda? Tapi, hari ini, musik yang memberontak jelas merupakan suatu bagian yang sangat penting dalam kehidupan kita. Saya tidak ingin terlalu jauh menoleh ke belakang.

Dulu, orang tua kita mungkin sudah mendengar banyak musik pada eranya. Mungkin juga tanpa mereka sadari, ada hal-hal baru yang mereka tangkap dari musik yang mereka simak. Sebenarnya, “revolusi musikal” itu sudah berlangsung tanpa mereka sadari.

Era-era pemberontakan itu sebenarnya cukup panjang jika diterjemahkan dalam tulisan saya ini [dalam catatan selanjutnya, saya akan kupas soal musik-musik yang berkorelasi dengan pemberontakan cultural yang revolusioner].

Musik memiliki cara yang luar biasa melampaui perasaan, emosi, dan informasi di seluruh dunia. Meberontak lewat musik linier dengan style yang bisa diadopsi cepat oleh masyarakat, bahkan jika itu tidak sesuai dengan moralitas yang dianut sekalipun. Tapi tentu tidak saya anjurkan untuk dilakukan di negeri yang punya “banyak tuhan swasta” ini ya.

Memberontaklah lewat musik, ketika kekerasan mulai terasa menggebu-gebu di depan mata kita. Memberontaklah lewat musik, ketika cinta tak lagi bisa dirasa. Memberontaklah lewat musik, ketika manusia tak lagi bisa melihat manusia lain sebagai sesama ciptaan. Ketika pemberontakan itu sudah “dikalahkan” oleh kekerasan, kehitaman cinta, dan penghinaan atas kemanusian, sejatinya musisi [dan musiknya],  sudah jadi jenazah. [djoko moernantyo/twitter: @jokoisme]

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini