Mau Masuk Industri Musik? Belajar Dari SPERMA Deh...

Jumat, 25 Februari 2011
Mau Masuk Industri Musik? Belajar Dari SPERMA Deh...
TERKEJUT  dengan judul  tulisan saya? Jangan-jangan langsung berpikir  tulisan ini ada hubungannya dengan urusan selangkangan? Ah, dasar otak jorok. Sama sekali tidak. Ini korelasinya dengan semangat pantang menyerah kok.

Coba googling bagaimana cara kerja sperma ketika membuahi sel telur? Tidak pernah datang sendiri, selalu berombongan dengan milyaran competitor lainnya. Tapi dari milyaran itu, hanya satu sperma yan berkualitas-lah yang akhirnya berhasil membuahi dan ngendon di sel telur itu sendiri.  Kalau diibaratkan kompetisi, hanya bakat yang paling unggul saja yang bakal menang dalam persaingan itu. Tentu saja bersaing sehat ya. 

Persaingan sehat inilah yang harus [dan memang harus] jadi budaya dan attitude dalam industri musik yang kita terjuni. Bagaimana kamu sukses dan bisa menapak dengan enak di industri musik ini, karena kamu menikmati, merasakan dan tidak jadi beban karena semua diawali dengan cinta. Pastinya cinta pada pekerjaan yang kamu pilih. Jadi musisi? Cintailah dunia musik itu dulu, sebelum bermimpi lain-lain.

Siapa sangkal bahwa industri musik sekarang sebenarnya juga adalah kompetisi? Kalau dulu berlari untuk mendapatkan jumlah penjualan fisik kaset atau CD sebanyak-banyak [bersaing dengan bajakan pula], sekarang marathon untuk mendapatkan angka download ring back tone sebesar-besarnya.  Diluar itu, musisi juga berlomba mendapat gigs atau tur sebagai bagian dari eksistensi off-airnya.

Sebagian musisi juga berkompetisi menciptakan karya yang se-apik mungkin, terlepas dari hitunga-hitungan bisnis yang membingungkan. Mereka lebih konsen pada kualitas lagu dan musiknya, ketimbang urusan rbt dan jualan fisik.

Meski dalam bentangan halus, bermusik selain beride, berinovasi, memang adalah sebuah marathon yang cukup melelahkan. Tidak hanya buat artis atau musisinya, tapi juga elemen-elemen lain yang ada di sekitarnya, seperti label, promosi, radio, televise dan apa saja yang mendukung musisi itu untuk mencapai garis finish sebagai jawara. Kadang-kadang muncul musisi atau penyanyi baru yang didukung dana besar,  label bonafid, promosi yang “mengerikan” tapikok nggak naik-naik namanya? Percaya diri yang berlebihan, bisa menjadi boomerang yang berbalik. Tapi sebaiknya langsung evaluasi.

Ada beberapa hal yang harus dirasakan benar-benar, sebelum akhirnya terjun ke kawah industri yang “kejam” buat yang tidak siap.

Sadar Diri & Introspeksi
Banyak musisi dan penyanyi yang karena merasa punya uang, menggenggam media dan merasa bisa “menjual dirinya” dengan baik, menjadi kurang melihat kekurangannya. Seolah, tidak ada kelemahan yang harus diperbaiki.

Dia tidak sadar kalau suaranya fals dan sering out of pitch. Dia tidak mau berkaca, bahwa masyarakat tidak hanya melihat wajah cantik atau ganteng dan seksi, tapi juga ingin mendengar suara yang merdu dengan lagu yang sing a long.

Pasti musisi kelas ini tidak pernah bertanya pada diri sendiri [boro-boro, lah diri sendiri dia tidak kenal], seberapa pantaskah diriku masuk ke industri sebagai artis?  Punya skill apakah hingga harus merasa sanggup berkompetisi di industri musik.
 
Secara kasuistis, ada beberapa musisi yang tidak punya korsa kompetisi, tiba-tiba melejit mulus seperti jalan tol. Ini identik dengan keberuntungan sebenarnya. Tapi perhatikan, kalau dia –siapapun itu—tidak membenahi diri, cepat melesat, berdebam pula hilangnya. Hati-hati saja.

Ketidakadilan
Pernah merasa hidup dan kehidupan kamu tidak adil? Sudah merasa jungkir balik berusaha, tapi kok gak sukses juga? Nggak ngetop juga? Mas Bro, dunia ini memang dipenuhi ketidakadilan, tapi kalau kemudian kita hanya mengeluh dan merasa selalu jadi korban, sebenarnya kita seribu langkah mundur.
 
Saya pernah menuliskan, industri musik itu seperti ‘predator pemangsa’—setiap hari menerima peminatnya yang berlimpah, tapi setiap hari pula meludahkan mereka yang tidak tahan dan kurang bekerjakeras.  Tapi jangan salah, bahkan yang dilepeh pun, masih bisa jadi emas. Banyak cerita band atau penyanyi yang ditolak di satu label, ternyata malah sukses di label lain. Kemauan untuk majunya, harus lebih kuat dibanding perasaan selalu jadi korban itu. Hanya yang tahan mental, open mind, dan terus belajar melihat kekurangan dan kelebihannya [biasanya, hanya pamer kelebihan] yang akan bertahan lama.

Jangan Pernah Puas & Terus Belajar Banyak Hal
Catat baik-baik ya wahai musisi Indonesia [pinjem gaya ngomong Soekarno bentarya], di atas langit ada langit, industri musik pun berputar cepat dengan semua aksentuasi di masing-masing label. Dunia ini makin berlari cepat., so kalau memang niat jadi musisi,  siaplah berlari marathon. Tapi kalau hanya mengisi waktu luang saja, sukur-sukur ngetop yak? Silakan ganti mimpi dan cita-cita kalian.  Fokus dan passion.
 
Saya beberapa kali bertemu, ngobrol informal atau memang sedang wawancara, dengan seabrek band baru yang mimpinya besar, tapi tidak melakukan apa-apa. Mereka merasa didukung label yang embel-embelnya internasional, hingga mengabaikan isi otak mereka sendiri.  Sudah cukup bangga dengan digaet label dan merilis album.

+++
 
So, kalau saya mengajak belajar dari sperma, jangan dituding mengajak berkutat di sekitar selangkangan ya, sumpah, nggak ada hubungannya dengan groupis kok. Saya juga sedang tidak kehabisan ilustrasi dan analogi dalam korelasi dengan dunia musik ini. Intinya, siapkah kamu –yang punya cita-cita jadi musisi—untuk terjun dalam kompetisi yang amat ketat ini? [djoko moernantyo/twitter: @jokoisme]

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini