Fanatisme Dalam Musik Itu BODOH

Rabu, 9 Maret 2011
Fanatisme Dalam Musik Itu BODOH
SEORANG filsuf bernama Arthur Schopenhauer [1788-1860] pernah mengatakan musik adalah salah satu jalan untuk manusia keluar dari dunia yang penuh dengan penderitaan, sebab manusia hanya memiliki dua jalan yaitu estetis (seni) dan etis (perbuatan baik). Bahkan seorang filsuf atheis seperti Friedrich Nietzsche [1844-1900] berujar, hanya musik yang memberikan arti dalam hidup manusia. Musik dapat menjadi tempat pelarian sementara manusia dari kenyataan hidup.

Maknanya mungkin tak sesederhana tampaknya. Banyak filsuf lain yang juga berucap betapa pentingnya musik dalam hidp manusia. Dalam satu artikel yang ditulis oleh Yason Christy Pranowo, musik vokal atau yang biasa disebut bernyanyi adalah musik yang sumber bunyinya dari suara manusia. Jenis musik inilah yang sebenarnya paling indah dan mulia dibanding instrument musik lain, karena mengutamakan suara manusia yang notabene merupakan ciptaan Tuhan yang berkategori sempurna.

Suara manusia ini adalah dasar dalam bermain musik vokal. Suara manusia yang digunakan untuk menyanyi adalah nada yang telah beraturan secara alami yang dapat mengalunkan berbagai warna suara, tangga nada melodi atau lagu.

Tetapi suara yang digunakan untuk menyanyi harus diolah lagi dengan tehnik vokal yang lebih baik agar tercapai keindahan yang dapat memberikan kepuasan bagi pendengarnya, yang lebih sering disebut sebagai olah vokal.

Semua orang bisa ‘menyanyi’, tetapi sedikit yang bisa menjadi ‘penyanyi’, karena penyanyi adalah orang yang dapat dan mampu mengembangkan suara dengan tehnik-tehnik olah vokal yang baik dan benar.

Secara filosofis, musik bisa menjadi salah satu alat pengeluaran manusia yang paling efektif ketika merasakan sedih, seneng, gembira, atau ketika sedang terpuruk. Para peneliti dalam bidang pengobatan tengah melakukan penelitian terhadap khasiat-khasiat pengobatan dari musik. Semasa dalam kandungan ibunya, seorang bayi dapat mengembangkan suatu reaksi terhadap musik. Dari lima indera manusia, kemampuan pendengaran manusia adalah hal pertama yang “dapat tercerahkan.”

Bayi yang belum lahir di dalam kandungan ibunya dapat mendengar detak jantung, nafas, dan pembicaraan ibunya. Karena itulah para orang tua modern memberikan para bayinya pendidikan pra-lahir, seperti mendekatkan ibu-ibu hamil kepada musik. Secara klinis musik yang elegan dan rileks membantu mengurangi tingkat stress, melapangkan pernafasan dan memelihara organ.

Seorang ilmuwan Amerika menemukan bahwa musik terdiri atas gelombang-gelombang resonansi, yang dapat mempengaruhi perasaan seseorang dan menenangkan tubuh manusia. Sementara itu, musik mengandung berbagai macam irama, sedangkan pergerakan tubuh kita cenderung mengikuti irama-irama musik. Karena itu, perubahan-perubahan irama musik dapat mempercepat dan mengatur bioritme-bioritme kita. Karenanya, beberapa dokter mahir akan secara sungguh-sungguh memilih musik dengan berbagai macam irama untuk menyembuhkan para pasien dari berbagai gejala penyakit.

Menurut seorang Yockie Suryo Prayogo, musik adalah energi sebuah perasaan yang keluar dari dalam lubuk hati manusia. Dia tak berbentuk sama , dia tak tak bisa diharapkan keluar dari layar monitor komputer kita. Dia bukan rumusan teori yang bisa diciptakan setelah dipelajari dibangku sekolah.

“Bagi saya musik seperti sebuah ‘agama’ namun tak ber-Tuhan , karena itu tak perlu fanatik terhadapnya, namun wajib tulus dan ikhlas serta jujur menjalaninya. Karena musik juga sebuah karya seni yang bersandar pada nilai-nilai kesucian. Tak ada karya seni baik yang tak bersandar pada nilai kesucian tersebut. Dan bagi saya salah satu nilai kesucian musik adalah kejujuran.”

So, musik memang lahir dari kehidupan kita yang paling hakiki. Kembali mengutip pernyataan mas Yockie, musik adalah agama tak bertuhan. Begitu? [djoko moernantyo/twiiter: @jokoisme]
comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini