Geliat Musik Cadas Kota Bengawan : Sebuah Catatan tentang Scene Musik Rock Kota Solo [2]

Rabu, 19 Oktober 2011
Geliat Musik Cadas Kota Bengawan : Sebuah Catatan tentang Scene Musik Rock Kota Solo [2]
 

(Bagian kedua dari Tiga Tulisan)

90’s era : The embryo of a massive movement

Pada awal 90an ada dua band metal besar yang mampir di Indonesia yaitu Sepultura pada tahun 1992 dan Metallica pada 1993. Hadirnya dua band papan atas tersebut semakin mamicu naiknya pamor metal yang sebelumnya memang sudah mulai mewabah di kota – kota di Indonesia, termasuk Solo. Seiring dengan itu pula pergerakan scene musik rock di kota – kota besar utamanya di pulau Jawa mulai mengarah ke genre – genre seperti death metal, black metal, grincore, punk, hardcore dan genre – genre lainnya. Solo pun ikut berkembang dengan memunculkan band – band sejenis. Makam adalah salah satu band Solo yang terbentuk pada dekade 90an dan termasuk salah satu band yang awet hingga saat ini.
Makam yang terbentuk pada tahun 1995 menjadi salah satu band pionir genre black metal di Solo. Lirik lagu mereka yang kebanyakan bertemakan tentang kepercayaan Kedjawen dan paganisme menjadi salah satu trade mark band yang dikomandoi oleh vokalis Djiwo Ratriarkha ini. Semakin meluasnya pergerakan genre extreme metal di tanah Jawa pada 90an menjadi salah satu momentum dalam kiprah Makam. Band ini banyak tampil di acara – acara musik bertegangan tinggi seperti Jogja Brebeg di Yogyakarta yang memang sudah sering digelar sejak dekade 90an. Makam juga menjadi satu di antara sedikit band era 90an asal Solo yang sudah merilis album yaitu Hymns For Sacrificed Souls pada tahun 2007, meskipun album Hymns For Sacrificed Souls merupakan album split, di mana dalam album ini Makam berbagi cakram bersama Adokhsiny, sebuah band black metal asal Korea Selatan. Sebelum merekam album  split ini, sepanjang 1997 hingga 2006 Makam merilis demo – demo yaitu Sympathy For The Beast dan Makabre Amuletha.
Masih dari genre black metal, setelah Makam muncul satu band yang bernama Bandoso. Sama dengan Makam, Bandoso pun tampil dengan balutan musik black metal yang cukup kental, meski mengusung tema lirik yang agak berbeda dengan Makam. Bandoso lebih banyak bercerita tentang tema – tema kematian. Salah satu dokumentasi rekaman yang telah dibuat oleh Bandoso adalah sebuah extended play (EP) atau mini album berjudul Kegelapan Dalam Keabadian pada 2004. Bandoso juga pernah melepas sebuah album live berjudul Totally Destroy Manahan. Ini adalah album live yang direkam ketika mereka melakukan konser di Manahan pada 2007.
Pada dekade 90an pula genre punk mulai marak di Solo. Salah satu band yang lahir dari genre ini adalah Tendangan Badut. Tendangan Badut juga sudah merekam lagu – lagunya yang kemudian beredar di kalangan para penggemar dan komunitasnya. Lahirnya Tendangan Badut tak lepas dari munculnya komunitas punk yang biasa bermarkas di seputaran Sriwedari.
Selain ketiga band di atas, pada dekade 90an juga lahir band – band seperti Crywar, Torment, Eruption, Hellstorm dan Fatal Sickness, meski sebagian besar dari mereka masih belum mendokumentasikan karya dalam bentuk album. Kebanyakan baru merilis demo. Namun setidaknya hal ini menunjukkan bahwa  sejak pertengahan hingga menjelang akhir 90an scene rock/metal kota Solo mulai menunjukkan kegairahan baru dengan banyaknya band – band yang lahir serta semakin variatifnya genre yang bermunculan. Tapi ini hanya merupakan sebuah awal dari sebuah perkembangan besar yang akan muncul berikutnya dalam scene musik rock di kota yang terkenal dengan Pasar Klewernya ini. 

2000 era : The decade of progess
Memasuki era millenium, band – band bergenre metal yang lahir di Solo semakin banyak. Salah satu band yang lahir pada dekade 2000an dan kemudin juga menjadi salah satu band yang menonjol dalam scene musik rock di Solo adalah
Spirit Of Life. Pengusung panji Hardcore ini ikut meriuhkan scene musik rock Solo sejak tahun 2002 dan masih aktif hingga saat ini. Band ini menjadi salah satu band yang memiliki fans yang sangat loyal. Spirit of Life sudah merilis satu buah album berjudul Where There is Life,There is Hope pada tahun 2007. Pada 2009 mereka juga mengeluarkan sebuah demo berisi empat lagu yang salah satu lagunya masuk dalam kompilasi The Gank Is Back (2010), sebuah album kompilasi yang menampilkan band – band kota Solo.

Sebelumnya, pada tahun 2000 muncul sebuah band yang di kemudian hari dikenal dengan nama Down For Life. Mengusung genre metalcore, band ini merupakan gabungan personil dari beberapa band di antaranya adalah Apoticore dan Sabotage. Apoticore adalah band hardcore asal Solo sementara Sabotage adalah salah satu elemen hardcore kota Yogyakarta yang familiar pada tahun 90an. Meski sempat beberapa kali gonta – ganti personil, tapi band ini tetap bertahan dan mampu menarik perhatian publik kota Solo, utamanya para penggemar metal melalui penampilan – penampilan di atas panggung. Gaung nama Down For Life pun semakin meluas seiring makin seringnya mereka melakoni pentas demi pentas baik di kota – kota lain di seputaran Jawa Tengah dan beberapa kota lain di pulau Jawa.
Pada tahun 2008, setelah kurang lebih delapan tahun terbentuk, Down For Life melepas album pertamanya yang berjudul Simponi Kebisingan Babi Neraka. Album ini mendapat respon yang baik dari publik metal kota Solo dan sekitarnya. Kiprah selama delapan tahun nampaknya memberikan dampak positif bagi distribusi album band yang bermarkas di daerah Kartopuran ini.  Dengan cepat albumnya sudah beredar di kalangan penggemar metal solo dan bahkan lagu – lagunya tersebar di banyak warnet di kota Solo. Album ini juga beredar di kota – kota lain di Indonesia utamanya di pulau Jawa. Kini Down For Life sedang mempersiapkan album keduanya yang akan diberi judul Simponi II : Himne Perang Akhir Pekan. Untuk itu, proses rekaman di sebuah studio di daerah Nologaten, Yogyakarta sedang dilakoni oleh kelima personil yaitu Stephanus Adjie, Rio Baskara, Moses Rizky, Ahmad ‘Jojo’ Azhari dan Wahyu ‘Uziel’ Jayadie.
Dekade 2000an juga menjadi dekade lahirnya band – band seperti Enforced, Never Again, Take And Awake, Lord Symphony dan yang terhitung bungsu, adalah Matius III:II yang terbentuk pada 2009. Band – band yang terbentuk pada era 2000 hampir semuanya telah memiliki album atau mini album yang kemudian didistribusikan meski dalam jumlah yang tak banyak. Mereka juga menunjukkan kualitasnya melalui konser dari panggung ke panggung. Sebuah hal yang wajib diacungi jempol mengingat di era digital saat ini kebanyakan band – band di Indonesia hanya merekam satu biji single yang kemudian diunggah ke internet lalu sesekali tampil di acara – acara musik dengan panggung kecil tapi dipenuhi oleh banyak orang dan kemudian berharap nama band mereka bisa ngetop. [bersambung]
comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini