"Sialannya" Endank Soekamti & "Semprulnya" Superman is Dead

Minggu, 1 September 2013

Sumpah, saya bukan anggota Kamties (penggemar Endank Soekamti". Sumpah juga, saya bukan anggota Outsiders (penggemar Superman is Dead). Saya di awal mencuatnya band-band ini malah menganggap mereka hanya menang nama yang unik dan cenderung kontroversial. Selebihnya, Endank Soekamti dan Superman is Dead (SID), tidak lebih dari band-band lain yang muncul dan kemudian pelan-pelan angslup [turun layar].

Kabarnya, band ini punya genre yang serupa, pop punk. Genre ini biasanya memang personelnya 3 orang, dengan kord gitar yang mudah dan lirik yang "melawan" atau lucu sekalian. Dengan berbagai kapasitas personelnya yang selalu mengaku skill musiknya biasa-biasa saja, dua band ini nyaris tak punya waktu luang untuk berleha-leha memikirkan industri musik yang mungkn dianggap kurang besahabat.

Mengapa dua band ini yang saya angkat dan cermati. Ada beberapa hal yang membuat saya mencacah otak, mengumpulkan keping-keping cerita yang pernah saya rasakan, alami dan lihat. Saya sempat beberapa kali ikut tur band ini. Saya juga sempat beberapa kali wawancara [ada di blog ini juga –penulis] dengan dua band ini. Ke Bali dan Jogjakarta. Satu hal yang pertama saya tulis adalah, kejujuran.

Dua band ini adalah band yang tidak pernah jaim kepada fansnya. Mereka nongkrong bareng, ngopi bareng, mungkin sempat mabok bareng, atau cepals-ceplos ugal-ugalan kata-kata bareng. Tidak ada sensor dengan perilaku mereka. Artinya, mereka –Endank Soekamti dan Superman is Dead—memang kesehariannya begitu, tidak perlu ada pencitraan dan embel-embel jaga image. Toh masing-masing, sudah mengerti porsi sampai dimana mereka bisa saling ugal-ugalan.

Di awal perkenalan dengan Superman is Dead, saya banyak mendengar suara miring tentang I Made Putra Budi Sartika a.k.a Bobby Kool sebagai gitaris dan vokalis, I Made Eka Arsana a.k.a Eka Rock sebagi bassis, dan I Gede Ari Astina a.k.a Jerinx sebagai drummer. Awalnya saya harus katakan, mereka memang belepotan tentang sound dan sering kebut-kebutan tempo di atas panggung. Belum lagi gayanya yang petentang-petenteng dengan badan penuh tato, membuat SID langsung mendapat cap band brengsek. Sampai muncul isu rasisme dalam perkembangannya.

Endank Soekamti adalah band cerdas mencermati kondisi pasar musik. Mengapa saya bilang cerdas? Dengan Kamties yang tersebar seantero nusantara [semboyannya saja: “Kamties sak modare!”] menyiratkan adanya fanatisme kepada band ini. Yang harus saya acungi jempol, fanatisme mereka bukan membabibuta, tapi rasional. Dan ketika kemudian pembelajaran dari personelnya lebih daripada sekadar fans dan artisnya, band ini sudah bersiap menjadi legenda.

Ide menjual kaos dengan desain apik dan membumi, menjadi salah satu penopang kehidupan band ini beserta kru-kru yag terlibat di belakangnya. Meluncuran boxset, melibatkan fans dalam pembuatan klip dan melahirkan radio streaming Soekamti.com, adalah pikiran jauh ke depan dari personel yang dari luar lebih cocok jadi “gali” ketimbang musisi. Erick Soekamtie, Ari Soekamtie dan Dory Soekamtie, menjadi think-thank yang didukung orang-orang kreatif [dan “gila”], melahirkan kejutan-kejutan yang tidak pernah dipikirkan musisi lain. Tak heran, meski tak berrnaung di bawah major label lagi, Endank Soekamti tetap bertahan [lama] di industri musik Indonesia. Suatu saat, saya akan mengupas sisi ekonomi yang dihasilkan oleh band asal Jogjakarta ini.

Peningkatan kentara terlihat di SID. Lirik-liriknya makin tajam, tapi dalam makna dan punya kekuatan untuk mempengaruhi. Saya menyebutnya agitasi lirik. Saya harus memberi pujian untuk lirik ‘Kuat Kita Bersinar’, ‘Jika Kami Bersama’, ‘Kuta Rock City’ dan terakhir ‘Jadilah Legenda’, membuat saya merinding mendengarnya. Band asal Bali ini sedikit beruntung, karena masih dianungi major labelnya, Sony Music Entertainment Indonesia.

Yang ingin saya katakan dari tulisan ini adalah, punya ide dan berani mengeksekusi, tidak ada ruginya. Kalau gagal, toh masih bisa memperbaikinya lagi. Ide-ide gila dan tidak terduga dari Endank Soekamti dan SID, tidak sekadar mempertahankan nama besar di industri musik, tapi yang terlebih penting adalah memberi dampak yang positif kepada diri mereka sendiri dan fans-fansnya. Hal lain, adalah kejujuran berkawan. Tampil apa adanya, sederhana meski “bacot” Endank Soekamti kadang-kadang tidak ada remnya. Tidak ada yang ditutupi tentang keseharian mereka. Dan itulah yang diapresiasi penggemar dan penonton konser-konsernya.

Endank Soekamti memang “sialan” dab! Sementara SID adalah band “semprul” yang memberi pembelajaran kepada manusia-manusia semprul sesungguhnya. Kejujuran, ide gila dan keluguan, itulah esensi hidup mereka. [djoko moernantyo/AirPutih.Blog/foto:istimewa]

comments powered by Disqus