Indonesian Jass Festival 2013

IJF, Upaya Menghadirkan Jazz yang Indonesia Banget

Senin, 2 September 2013

Kehadiran pagelaran musik Jazz di tanah air, bagi para penggemar Jazz di Indonesia, tentu menjadi moment yang ditunggu-tunggu. Apalagi yang  tampil adalah musisi Jazz ternama, baik dalam dan luar negeri. Dari sejumlah ajang yang digelar, panitia-dalam hal ini event organizer- banyak yang menuai sukses. Sponsor banyak yang membanjiri, media massa (termasuk sosial media) ramai membincangkan, belum lagi berbagai bentuk promosi lain yang dibuat dan  makin membuat banyak orang tahu, lalu berkeinginan hadir. Bahkan, ada seorang pengamat musik mengatakan; pagelaran Jazz kini seperti sebuah lifestyle. Mereka yang tidak menonton, dianggap nggak gaul.

Beberapa waktu lalu, ALBA Production juga ikut-ikutan membuat ajang serupa bertajuk "Indonesian Jass Festival". Didukung sejumlah komunitas Jazz dan sponsor, ALBA Production mencoba mengusung tema "KeIndonesiaan", baik dalam hal nama, konsep dan musisi yang menjadi pengisi acara.

Lewat situs resminya, panitia memaparkan pemilihan nama "Jass" yang masih terdengar asing ditelinga masyarakat Indnesia. Pengambilan nama "Jass" menurut mereka berasal dari  group band pertama yang melakukan rekaman jazz pada tahun 1917 yaitu “Original Dixieland Jass Band”. Disebutkan panitia,  ini  bukanlah salah ketik, tapi memang pada awalnya tertulis demikian. Bukan ditulis “Jazz” melainkan “Jass”. Panitia juga akhirnya mengambil tema "Jass in Unity"

Dalam hal konsep, ALBA menghadirkan "ornamen" yang Indonesia banget. Misalnya, dibagian pintu masuk mereka membuat semacam tugu yang dalam dunia pewayangan disebut "kayon" atau "Gunungan", sebagai simbol kehidupan. Panitia juga   menghadiran booth  hot spot berwarna merah dengan tampilan model desain warna "merah putih" yang mengambil semangat bendera negara kemudian dikolaborasikan dengan  gambar musisi Indonesia.

Pengisi acaranya yang dihadirkan pun, semuanya musisi Indonesia yang berasal dari berbagai angkatan. Mulai terkini, era 90-an hingga era tahun 70-an. Deretan musisi lawas, seperti Ireng Maulana, Margie Segers, Benny Mustafa, Mus Mudjiono, dan Benny Likumahuwa juga menjadi daya tarik penonton untuk hadir. Serunya, si "kake" dan "nini" ini disandingkan dengan musisi muda yang bisa dibilang "seangkatan" dengan cucu-cucu mereka.

Musisi Jazz lain yang tidak kalah seru dan "menyedot" pengunjung dari golongan kaula muda adalah ; Soulvibe, The Groove, Syaharani, hingga Maliq & The Essential. Tidak hanya itu, musisi "lintas" aliran juga turut menyemarakan perhelatan perdana ini, seperti Gugun and The Blues Shelter, dan Balawan.

Meski pengunjung yang hadir tidak begitu banyak, ajang "Indonesian Jass Festival"  tergolong sukses. Memang, masih banyak kekurangan disana-sini, dan  ini diakui oleh panitia penyelenggara. Misalkan pengaturan panggung yang berdekatan sehingga saat berlangsung dua event terjadi distorsi suara, kemudian kurangnya kesiapan bagian teknis terkait sound system yang menyebabkan waktu pertunjukkan menjadi molor. Implikasi lainnya juga mengakibatkan pemanfaatan waktu istirahat (break) tidak terjadi. Misalkan, saat para muslimin menjalankan ibadah sholat magrib, sejumlah pertunjukkan masih berlangsung. Terkait dengan tempat wudhu dan sholat, penonton juga harus mengantri lama, sehingga ada yang terlewatkan waktu sholatnya.  

Sejumlah catatan seperti tersebut diatas tentu menjadi masukan para penyelenggara pertunjukkan, tidak hanya pada ajang kemarin "Indonesian Jass Festival". Luasnya area "Istora Senayan" sebetulnya masih bisa disiasati. Toh, kemarin tidak seluruh areal dipakai. Jika saja, pemanfatan ruangnya bagus, tentu tidak terjadi distorsi suara antar panggung dan mengularnya para penonton yang ingin melakukan Ibadah.

Semoga ajang "Indonesian Jass Festival" (IJF) tahun depan menjadi lebih baik dari kemarin. Dan melalui IJF  para musisi Jazz Indonesia bisa tampil dari berbagai generasi. Harapan penulis dan juga ribuan penonton kemarin juga pasti sama, IJF bisa menjadi icon ajang Jazz yang "pure" Indonesia. IJF bisa menjadi tempat Reuni para musisi, penggemar,dan komunitas. Sehingga hadir dalam IJF seperti  menghadiri sebuah "Pesta" yang tanpa sekat; antara generasi, antara pemain, dan antara musisi dan penggemarnya. Semoga...:) [lysthano/cinmi/foto: cinmi.com]

 

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini