Hidup & Matinya Industri Musik di Era Revolusi Digital

Sabtu, 1 Februari 2014

Dengung lahirnya revolusi digital memang sudah terdengar kencang. Di Indonesia, gaungnya juga tak kalah nyaringnya. Sayangnya, sampai saat ini belum ada literatur atau riset tentang sejahmana revolusi digital memberi pengaruh –entah baik, entah buruk—kepada industri musik di Indonesia. Yang tersebar adalah data-data angka tentang kerugian, data persentase tentang merosotnya pendapatan, dan data sekunder tentang sebab-sebab terpuruknya industri musik global [dan Indonesia].

ALHASIL ketika saya menemukan satu buku yang merupakan disertai doktoral dari seorang pakar komunikasi dan pengamat industri musik [di Britania Raya/Inggris dan Irlandia], Jim Rogers Ph.D dari Dublin City University, Irlandia, sedikit banyak pertanyaan saya tentang revolusi digital di dunia, terjawab. Tidak bicara secara spesifik tentang Indonesia, karena Rogers mewawancarai 30 orang profesional di Industri musik Inggris dan Irlandia, selama rentang 2007-2010. Riset yang dibukukan itu berjudul “The Death & Life of the Music Industry in the Digital Age” [2013].

Pertanyaan utama yang melandasi penelitiannya adalah: apakah internet atau revolusi digital, menjadi penyebab runtuhnya industri musik atau malah menjadi momentum perbaikan dan restrukturisasi dan penataan industri musik?

Dalam pandangan Rogers, industri musik yang terpuruk sebenarnya hanya bermuara pada industrinya sebagai subjek. Sementara musisi sebenarnya masih punya “napas panjang” untuk bertahan dengan kekuatan off-airnya. “Tampil secara live sebenarnya merupakan pembuktian musisi, bahwa mereka tangguh dan inovatif menghadapi tantangan digitalisasi,” kata Rogers. Menurutnya, jika industri mengalami krisis, itu terbatas pada industri rekamannya. Industri musik pelan-pelan mengubah bentuk, tapi in sebenarnya sesuatu yang sudah bisa diprediksikan dan bisa diantisipasi.

Dalam kacamata Rogers, beberapa tantangan yang akan dihadapi pelaku inbdustri secara besar-besaran adalah:

  1. Keberanian mengejar pelaku file-sharing atau penyedia file-hosting dan menuntut mereka ke pengadilan. Tampaknya seperti mengejar hantu saja, tapi memang butuh keberanian untuk menangkap pelaku kakapnya. Selama ini yang terjadi adalah “ketakutan” mengejar. Akan butuh energi, tapi disinilah akan dilihat kekuatan industri itu, apakah bersatu atau malah kemudian saling menjatuhkan secara indvidual.
  2. Lisensi atau perizinan musik digital secara online atau mobile.
  3. Perizinan hak sinkronisasi bagi produsen game, film dan perusahaan produksi TV dan perusahaan iklan.
  4. Pengembangan dan penetrasi pasar yang lebih agresif.

Sumber-sumber pendapatan baru dan ledakan di live-music, juga menjadi kajian riset Rogers. Perusahaan rekaman yang punya katalog luas dan banyak, mulai menemukan “jaring baru” untuk menangguk pendapatan dari pengguna komersial lainnya. Bagaimanapun, label musik atau publishing juga akan tergiur dengan angka yang bisa mereka dapatkan. Apalagi kemudian banyak “konglomerat hiburan” yan melihat sektor ini makin menjanjikan dan membentuk lini-lini usaha yang berhubungan dengan musik. Contohnya adalah LiveNation.
"buku karangan Jim Rogers"

Rogers menuliskan, seniman [baca: musisi], termanjakan oleh teknologi digital untuk produksi, promosi dan pemasaran. Tapi yang tidak disadari oleh musisi, kemanjaan dan kebebasan itu hanya pada level atau ceruk tertentu, karena ketika mulai mengejar karier di jaringan internasional, musisi itu harus tetap punya jaringan luas.  Dan itulah yang dimilik label.  Untuk jaringan independen, hasil riset Rogers mengatakan: mereka hanya memilik ceruk kecil di pasar musik riil. Selebihnya tetap harus dimediasi label-label besar atau label yang lebih punya jaringan luas. Kelemahan disertasi Rogers adalah: 30 profesional di industri musik yang jadi respondennya, lebih banyak berada di jalur mainstream industry.

Bagi Rogers, industri musik, telah berubah secara dramatis sejak akhir 1990-an. Artinya, prediksi bakal lahirnya revolusi digital gelombang besar ini, sudah bisa dibaca jauh-jauh hari. Perilaku konsumsi musik juga telah berubah secara fundamental dan itu adalah pendorong dari proses perubahan yang berlangsung secara radikal dan revolusioner. Anda setuju? [Djoko Moernantyo/airputih.wordpres.com]

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini