Cara Jitu, Musisi Tak Buru-Buru 'Bunuh Diri'

Selasa, 18 Maret 2014

Suatu hari saya ngobrol dengan beberapa musisi dan seorang yang berkecimpung di personal branding. Tidak ada obrolan yang serius, hingga kemudian kami bicara soal perkembangan musik dan banyaknya konser musik uyang digelar di Indonesia. Kemudian muncul pertanyaan, apakah seabrek konser di Indonesia itu, juga memberikan “derajat” yang sama kepada musisi Indonesia? Jawabannya: tidak!

MESKI secara pembelajaran teknis, operasional dan manajemen, banyak hal bisa dioprek oleh musisi dan pelaku industri musik di Indonesia, tapi sejatinya, tidak terlalu banyak menyentuh kepada kesejahteraan musisi lokal. Tidak semua musisi asing yang datang dan konser di Indonesia, punya kualitas yang bagus. Ada banyak yang punya kualitas [ternyata] biasa-biasa saja. Hanya karena dia bule dan beberapa lagunya ngetop, jadilah dia rockstar di panggung musik Indonesia. Padahal, kalau mau jujur, banyak musisi Indonesia yang jauh lebih berkualitas dan skillfull kalau dijejerin.

Tentu bukan persoalan skill doang, karena promotor juga melihat ada request besar, yang itu artinya sama saja dengan “tumpukan uang” di depan mata. Gengsi naik ketika berhasil mendatangkan musisi bule, apalagi laris manis konsernya. Buat penonton, selain gengsi, juga kesempatan untuk bertemu, mungkin berfoto atau sekadar say hello saja. Tapi bagaimana dengan musisi lokal? Hanya jadi pembuka untuk band yang kadang-kadang skill-nya bagusan pembukanya. Belum lagi perlakuan sound dan honor. Musisi lokal jadi ‘anak tiri’ di negeri sendiri. Tidak percaya?

Obrolan berkembang, sampai kemudian muncul topik dan ide yang menarik. Soal “memanusiakan” musisi lokal, yang bagus, tapi “rindu order” atau musisi baru berkualitas, tapi tak punya peluang untuk dikenal dan menghimpun fanbase. Salah satu yang jadi pemikiran adalah memberikan napas panjang kepada musisi dalam berkarier. Mungkin terdengar ‘omong-kosong’ saat ini di Indonesia, tapi sebagai salah satu solusi dan alternatif, mengapa tidak?

Begini: banyak yang bilang, industri musik beberapa tahun belakangan ini, sedang bobrok! Benar, bukan lagi sakit, tapi sudah sekarat menjelang ajal. Tapi untuk benar-benar menemui ajal, rasanya tidak mungkin, karena masih banyak yang “mendoakan” kesembuhannya. Nah daripada menghujat, nglokro, atau menunggu ajal tanpa berbuat apa-apa, kawan saya mengusulkan satu aktivitas dengan nama: The Band Show.

Terdengar mirip dengan acara televisi yang sudah berhenti? Yah, mirip-mirip dikitlah, tapi penjelasannya berbeda. Kawan saya ini mengacu kepada teater-teater yang berteberan di Vegas, Los Angeles, atau Broadway. Saya hanya manggut-manggu, karena memang belum pernah ke Amerika, Cuma lihat di film saja. Tapi penjelasannya begini:

Musisi, entah solois atau band, punya program mingguan di salah satu tempat yang dianggap representatif. Musisi ini kemudian mengolah penampilannya supaya menjadi menarik dan selalu menarik penonton. Bisa dari fans lama, atsau fans baru. Misalnya: Naif punya program mingguan reguler di Taman Ismail Marzuki. Naif harus mengolah dirinya dan pertunjukannya, menjadi menarik dan memikat penonton yang benar-benar fans atau penggemar saja. Jadi setiap pertunjukkan selalu memikirkan ide-ide yang baru untuk menghibur. Kabarnya, di Amerika sana, ada beberapa band yang bisa manggung sampai tahunan, dan selalu penuh. Malah sudah masuk agenda wisata daerah setempat. Nama band itu mungkin tidak akan kita temukan di rak musik kita, tapi ternyata bisa digarap dengan baik dan menjadi layak jual.

Atau sebut saja Raisa. Solois cakep ini sekarang termasuk salah satu penyayi cewek yang digandrungi. Buat saja teater khusus Raisa dan atur strategi supaya regulernya bisa jalan panjang. Sponsor biasanya akan  datang dengan sendirinya, kalau memang acaranya menarik dan bisa membuat orang menonton. Memang awalnya mungkin  biaya produksinya lumayan mahal, tapi efek jangka panjangnya pasti akan indah.

Dalam konteks kekinian, ide teater [meski idenya adopsi juga] JKT48, cukup berhasil. Kelompok yang kerap dituding alay dan dicibir ini, ternyata justru bisa membalikkan prediksi banyak orang. Mereka meraup banyak fanbase fanatik yang selalu datang dalam setiap pementasan reguler atau konser. Album-albumnya laris manis dan mereka bisa bertahan beberapa tahun menggelar acara di teater yang mereka sewa khusus. Terlepas dari rasa suka atau tidak, tapi apa yang mereka lakukan secara manajerial bisa dipelajari dan menjadi menarik ketika mereka akhirnya bisa punya napas panjang di industri. Bahkan ketika tren girlband sudah mulai surut.

Saya mendengar, ada beberapa produser dari Amerika yang tertarik mengembangkan konsep jangka panjang itu di Indonesia. Kabar yang masuk ke telinga saya, grup musik DEBU akan jadi salah satu yang diolah untuk dijadikan pilot project. Tawaran dan pintu sudah terbentang lebar. Ide-ide musikal juga sudah dilepaskan. Persoalan klasiknya adalah pemikiran musisi yang kadang-kadang merasa belum layak, belum mampu, atau belum pantas. Hmm, kalau memang tidak punya keberanian, mending jadi penonton saja. Saat banyak yang menyerapah industri sedang bobrok, ide baru apapun yang menyegarkan, harusnya kita apresiasi. Berani? [DjokoMoernantyo]

comments powered by Disqus