Saya Rindu Musik Masa Kanak-kanak

Selasa, 22 April 2014

Menjadi guru Sekolah Dasar, membuat aku memaksa diri untuk masuk ke dunia anak, salah satunya dengan mengamati lagu anak-anak. Di suatu sesi Pelatihan Intensif pengajar Muda di Bogor, disebutkan bahwa musik/lagu adalah salah satu media pembelajaran yang efektif dan menyenangkan untuk menyampaikan materi pembelajaran.

Oleh karena itulah, kami para Pengajar Muda saat itu, sering menggubah materi-materi pelajaran ke dalam sebuah lagu agar mudah diingat dan dihafal. Dari situ, akhirnya kami sering hunting referensi nada dari lagu-lagu anak-anak untuk digubah. Dan pada suatu kesempatan ketika saya dan seorang teman pengajar muda menemukan sebuah CD di salah satu pusat perbelanjaan di Bogor, yang berisikan ratusan lagu-lagu anak-anak, mulai dari Susan dan Ria Enes, Eno Lerian, Bondan Prakoso, sampai yang jadul si Melisa, penyanyi tembang “Abang Tukang Bakso”

Semua lagu yang ada di CD itu, sangat familiar di telingaku. Diam-diam Dalam hati aku bersyukur, ternyata aku sempat menjalani masa kecil yang menyenangkan. Masa kecil  yang diisi lagu-lagu yang variatif, kreatif, dan mendidik.   Aku masih ingat betul, betapa dulu aku hafal nama 25 Nabi dalam agama Islam karena lagunya Dea Ananda ; aku bisa hafal nama-nama planet di tata surya kita karena lagu Bondan Prakoso (yang kalo gak salah judulnya Planet) ; aku mengenal hewan Lumba-lumba yang hidup di selat Sunda,dll juga dari lagu Bondan Prakoso ; aku mengenal bahwa Insinyur itu kerjaannya bangun gedung bertingkat lewat lagu Susan dan Ria Enes yang berjudul cita-citaku ; Aku juga mengenal Australia itu negeri Wool, Belanda itu negeri Kincir, Amrik itu negeri Paman Sam lewat lagu Trio Kwek-kwek yang berjudul Katanya. Ya, aku belajar banyak dari lagu-lagu itu, dan aku sangat terbantu sekali karena lagu-lagu itu, karena dulu aku sangat tidak suka belajar hafalan.

Aku juga baru menyadari kalau lagu-lagu anak-anak pada masaku dulu juga menanamkan nasionalisme yang tinggi. Masih ingat benar, dulu ada lagu dari Cindy Cenora yang judulnya “Aku Cinta Rupiah”, yang mendorong kita untuk selalu mencintai Rupiah, yang saat itu sedang dilanda krisis moneter. Juga ada lagu dari Fajar Bahari yang judulnya “Gatot Kaca”, yang menyuarakan bahwa Gatot Koco itu gak kalah hebatnya dengan “Superhero-Super Hero” dari luar negeri, seperti Power Ranger, Robin Hood, atau Ksatria baja Hitam.

Ada lagi lagu dari Eno Lerian, yang judulnya “Semua Ada di Sini”, yang kurang lebih liriknya : “Mau makan di restoran Padang, bukan berarti harus ke Padang, cukup ada di sini dekat kita sendiri kita tinggal menikmati, mau makan buah jeruk Bali, bukan berarti harus ke Bali… Cukup ada di sini, dekat kita sendiri… kita tinggal menikmati…….” (dan seterusnya dan seterusnya) kemudian di sambung dengan Reffnya : “Hai Indonesiaku….. hai Indonesiaku… Tanah Subur rakyat makmur… Tanah Subur rakyat makmur….. hey Indonesiaku… Hai Indonesiaku aku sayang kepadamu….. Tanam padi tumbuh padi, tanam duren tumbuh duren, tanam budi tumbuh ilmu…..”

Ya, itulah lagu anak-anak di masa aku kecil dulu : enak di dengar, menghiubur, kreatif, cerdas, dan tentunya, mendidik…..  Bagaimana sekarang ??? Yah, kita tahu sendirilah…… Hampir tidak kita jumpai penyanyi-penyanyi anak-anak sekelas Eno Lerian, Trio Kwek-Kwek, Bondan prakoso, Trio Laris, Agnes Monica, Eza Yayang, Sherina, Susan dan Ria Enes, Cikita Meidy, Cindy Senora, dan Maisy…. Di mana, nama-nama tersebut begitu lekat di hati anak-anak….

Acara-acara musik khusus anak-anak pun bertebaran di masa itu… sebut saja CI-Luk-Ba, Kring-kring Olala, Pesta Ceria, Dunia Anak, dan acara yang dipandu Agnes Monica dan Indra Bekti, Tralala-Trilili…… Jam tayanagnya pun bervariasi. Ada yang sebelum kita berangkat sekolah, sore hari setelah tidur siang, atau petang hari sebelum kita belajar…. Biasanya di dalam acara itu juga disuguhkan berbagai hiburan yang mendidik…. Hmmm… Dunia entertainment anak-anak  tumbuh subur saat itu..

Bagaimana dengan saat ini? Saya rasa bisa dihitung dengan jari acara yang khusus anak-anak non film kartun. Dan rata-rata semuanya masih sejenis. Sejenis Bolang dkk. Tidak ada lagu anak-anak tercipta lagi…. Tidak ada acara khusus yang menayangkan lagu-lagu anak lagi di tengah maraknya acara-acara musik di pagi hari yang durasinya sangat lama itu. Ajang pencarian bakat untuk penyanyi anak pun lebih didominasi lagu-lagu orang dewasa.

Oleh karena itu, saya mafhum, kenapa banyakn anak-anak yang dengan fasihnya menyanyikan lagu orang dewasa, bahkan yang seharusnya bukan konsumsi untuk mereka. Saya sendiri agak miris ketika ada anak-anak didik saya yang dengan fasihnya menyanyikan lagu Cinta satu Malam, hamil duluan, Ketahuan, dll.

Saya rindu masa-masa kanak-kanak saya. Saya rindu Ibu Kasur, A.T. Mahmud, dan Papa T. Bob yang sudah mengisi masa kanak-kanaknya dengan lagu-lagu ciptaannya yang ratusan jumlahnya. Kalau sekarang sedang musim lagu-lagu lama yang di Recycle, saya berharap, ada musisi yang merecycle lagi lagu anak-anak jaman masa kecil saya dulu. Entah itu dinyanyikan oleh penyanyi yang sama (yang sekarang sudah dewasa), penyanyi-penyanyi dewasa saat ini, atau penyanyi anak-anak yang baru (kalau misalkan ada) — yang penting lagu-lagu yang menghibur dan mendidik itu bisa bermunculan lagi ke permukaan mewarnai hari-hari anak-anak di masa kini agar mereka mendapatkan konsumsi musik yang sesuai dengan usia mereka… Juga mewarnai hari-hari saya yang pastinya akan sangat senang karena bisa bernostalgia lagi ke masa anak-anak…. Saya rindu musik-anak-anak…. [Asril Alifi/Bloger kompasiana]

 

 

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini