100 Tahun Ismail Marzuki

Selasa, 3 Juni 2014

Siapa yang tak pernah mendengar nama Ismail Marzuki, Seorang tokoh seniman nasional yang namanya di abadikan sebagai nama taman budaya di ibu kota. Seorang komponis dan pemimpin orkes. Lahir di Jakarta pada tanggal 11 Mei 1914 . Sebagaian besar hidupnya dicurahkan untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, semasa hidupnya tak kurang dari 240 buah lagu tercipta.

Ismail marzuki meninggal dunia, 25 Mai 195, semua lagu lagu ciptanya bernafaskan nasionalis yang setia pada cita cita perjuang kemerdekaan. Misalanya, lagu “Rayan Pulau kelapa” pada malam peringatan 100 tahun Ismail marzuki yang diadakan oleh Dinas Pariwista dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, 24 Mei 2014 dibawakan dengan apik oleh  Mariam Tamari, Saprano Internasional yang pernah mewakili Palestina sebagai solois pada debut sejarah Palestina Nasional orchestra pada tahun 2010.

Acara 100 Tahun Ismail Marzuki diadakan di taman Ismail Marzuki dengan rangkain kegiatan lintas generasi, mulai dari pemutaran lagu lagu Ismail Marzuki, Operet Ismail Marzuki Sang Pahlawan, Lomba Paduan suara antara Universitas dan sebagai puncak acara digelar Pagelaran Musik Lintas generasi dengan menghadirkan artis artis ibukota mulai dari Slank yang suskses mengubah lagu juwita malam terdengar ngerock dan akrab di telingan kawula muda. Dengan iringan Chandrabuana Chamber Orchestra, Ecky Lamoh, Diah iskandah, Ubiet, Ivan Nestoman, dan tak ketinggalan penyanyi kroncong Sundari Soekotjo dan biduan dangdut Ikke Nurjanah yang mendedankan dua lagu “ Di Ambang sore dan Kampung Halaman. Ikut memeriahkan juga musisi musisi internasional, ada Maraiam Tamari, Saprano dan Nicolas Dautricourt seorang violist yang sudah mengadakan pertunjkan di beberana negara.

Lagu lagu Ismail Marzuki memang ada sebagian yang tak asing di teliga kita generasi muda, seperti Juwita Malam yang didaur ulang band Slank,  Indonesia Pusaka yang menjadi lagu kebangsaan, Gugur Bunga yang sempat populer ketika Ibu Teen Suharto meninggal masih menjadi Ibu Negara. Halo Halo Bandung yang membakar semangat. Tetapi beberapa kali saya yang kebetulan menonton Pangelaran 100 tahuin Ismail Marzuki bersama kekasih di buat diam dan bertanya tanya lagu apa yang sedang di nyanyikan meski iringan musik sulit ditolak, selalu mengajak kaki dan kepala mengikuti irama.

Seperti lagu Irian Samba yang malam itu di bawakan Michael Jakarimilena Idol dengan suara rancak, saya baru tahu lagu itu berkisah romantik dan heroik, ada lagu Rayuan pulau Kelapa yang mampu menimbulkan rasa kecintaan seorang yang lebih besar lagi terhadap kepulauan Nusantara Indonesia ini.

Setelah melihat acara 100 Tahun Ismail Marzuki saya jadi tersadar, Seorang Ismail Marxuki bukan sebatas pahlawan tetapi seniman besar yang karya karyanya abadi dan harus kita jaga dan perlihara, harus kita kenalkan ke anak cucu kita nanti. Mereka harus mengenal semangat beliau dalam karya karyanya.

Saya berharap tidak hanya dibuat pertunjukan atau nama yang abadi tetapi juga lagu lagu Ismail Marzuki juga bisa dinikmati oleh generasi sekarang karena saya yakin masih banyak yang hanya sebtas tahu Ismail Marzuki tetapi kurang mengenal karya karyanya.

Salut juga dengan grup Slank yang mengisi lirik dari lagu yang diciptakan Ismail Maezuki sebelum meninggal dan tak sempat direkam dan di pedengarkan secara umum. Malam itu Slank secara khusus dan perdana menyanyikan “Oh Ayah, Saya Ingin Kawin” karya Ismail Marzuki. Semoga musisi musisi dan perusahaan rekaman juga mau merekam dan menyanyikan kembali karya karya Ismail Marzuki agar generasi sekarang bisa mengenal dan lebih mencintai karya anak bangsa. [TrieYas/kompas]

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini