AT Mahmud

Meniti Pelangi, Sebuah Memoar Sang Maestro Lagu Anak

Rabu, 4 Juni 2014

Buku AT Mahmud Meniti Pelangi

Membicarakan lagu anak Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Abdullah Totong Mahmud, atau yang lebih dikenal dengan AT Mahmud. Kesuksesan AT Mahmud menelurkan lagu-lagu anak berkualitas tidak bisa dilepaskan dari kegigihan dan komitmennya pada dunia pendidikan anak.   Tidak hanya itu, berdasarkan cerita  kawan "seperjuangannya",  Prof Emil Salim, AT Mahmud dikenal cerdas dan periang. Totong (begitu Emil Salim memanggil AT Mahmud) juga pandai melukis, dan sering diminta bantuan untuk menggambar poster-poster yang membangkitkan semangat perjuangan masyarakat melawan penjajah.

Masa kecil di kota kelahirannya, di  Palembang,  dilalui dengan sangat bahagia bersama orang tua, saudara dan kerabatnya. Layaknya anak "kampung" Totong banyak melakukan aktivitas luar ruang seperti berenang di sungai (sungai Musi), memanjat pohon,  dan bermain petasan. Saat pendidikan dasar di  Hollandse Indische School (HIS), AT Mahmud. mendapatkan pelajaran musik dari seorang guru Belanda. Satu hal yang berkesan bagi AT Mahmud., cara mengajar guru Belanda ini sangat menyenangkan. Dari situlah AT Mahmud mulai menyukai musik. Hingga pertemuannya dengan Ishak Mahmuddin, seorang saksofonis dari orkes musik "Ming" yang cukup terkena di Muaraenim. Melalui Ishak pula, AT Mahmud jadi pandai bermain gitar dan akhirnya direkrut menjadi anggota Orkes tersebut dan melakukan aktivitas bernyanyi melalui berbagai hajatan, sepert perkawinan, sunatan dan hajatan lainnya.

Situasi perang Indonesia melawan penjajahan  membuat  AT Mahmud  bersedih, sebab saat itu situasi menjadi tidak aman dan nyaman untuk beraktivitas. Apalagi saat tentara sekutu mendarat di Palembang bersama tentara Belanda yang tergabung dalam Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Agresi tentara Belanda meluluhlantakkan kota yang dikenal pempek-nya itu. Pernah suatu ketika AT Mahmud. terkena "razia" saat tentara Belanda yang sedang mencari dan menangkapi para tentara Indonesia (termasuk tentara pelajar). Untung AT Mahmud.beserta kawannya yang berjumlah 5 orang tidak memiliki cukup bukti melakukan perlawanan, akhirnya dilepas dan bisa selamat kembali ke Tebingtinggi.

Situasi perang tidak menyurutkan AT Mahmud. dalam berkesenian. Tahun 1948 dia menciptakan lagu perjuangan "Maju Berjuang" sebagai ungkapan penyemangat  rakyat untuk maju ke medan juang : Meninggalkan kampung halaman, kami maju ke medan juang/dengan satu tekad membara membela kehormatan bangsa/Jangan kembali pulang kalau tidak menang,  walau jiwa raga menjadi taruhan untuk bangsa...

Penuturan AT Mahmud melalu buku "Meniti Pelangi" terbitan Grasindo tahun 2003 ini cukup lengkap. Peristiwa demi peristiwa dituliskan dengan sangat detil, mulai kisah lahirnya, masa anak-anak, remaja, hingga dewasa. Tidak hanya itu, dalam buku  yang terdiri dari 95 halaman ini AT Mahmud juga menceritakan kisah perjuangan dirinya bersama kawan-kawan dalam melibatkan diri melawan penjajahan Jepang dan Belanda.


Pilihan menjadi guru dengan menempuh pendidikannya di Sekolah Guru bagian A dan B (SGA/B) dinilai AT Mahmud menjadi pilihan sekaligus jalan hidupnya. Ini pula yang mengantarnya berkenalan dengan Bu Fat dan Bu Meinar yang sudah  lebih dahulu dikenal sebagai tokoh yang peduli dengan dunia anak. Tahun 1964 AT Mahmud. tercatat sebagai guru pada Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) di jalan Halimun, Jakarta Selatan. Ditahun yang sama pula, AT Mahmud. lulus dan menyandang gelar sarjana Muda Ilmu Keguruan dan Pendidikan Jurusan Bahasa Inggris. Meski berlatar belakang Sarjana  bahasa, AT Mahmud. merasa 'sreg" dengan dunia musik. Sejalan dengan itu AT Mahmud mulai mencoba mengarang lagu anak dengan terlebih dahulu mempelajari lagu anak yang telah ada, seperti lagu Ibu Sud, Pak Dal dan pencipta lagu anak-anak lainnya.


Dalam pandangan , lagu anak berbeda dengan lagu dewasa. Bedanya, menurut , ada pada pikiran, perilaku dan perasaan anak itu sendiri. Alkisah, sedang menjemput salah seorang anaknya, Rika, yang sekolah di Taman Kanak-kanak, Taman Inderia, pimpinan Ibu I.A Tobing di Jalan Cimandiri dekat pasar Cikini. Di tengah perjalanan, saat melintas di jembatan Pasar Rumput, dari atas sepeda motor yang dikendarai AT Mahmud, Rika berteriak, "Pelangi!" sambil menunjuk kearah langit. Dari situlah terlahir lagu "Pelangi" : Pelangi, pelangi, alangkah indahmu/merah kuning hijau dilangit yang biru/Pelukismu agung siapa gerangan/ Pelangi, pelangi ciptaan Tuhan.

Kisah lainnya, ketika Rika bersedih karena kawan sekelasnya "Ade Irma" (putri jendral AH Nasution, pahlawan revolusi), meninggal dunia karena tertembak saat tragedi penculikan ayahnya. Rika sangat bersedih dan setiap hari selalu bertanya, "Mengapa Ade Mati? Mengapa Ditembak? Ade masuk surga atau tidak??AT Mahmud tidak bisa menjawabnya langsung. Dari sini pula terlahir lagu "Ade Irma Suryani". Akan kuingat selelu Ade Irma Suryani/Waktu dipeluk dipangku Ibu dengan segala kasih/Kini dia berbaring di pangkuan Tuhan/Senang dan bahagia dihatinya/ Di fajar Ade terjaga dari mimpi terbangun/Tampak olehnya sinar Ilahi turun bersama embun/Kini dia terlena tertidur kembali/Nyenyak di pelukan Tuhannya.

Dalam menghasilkan karya lagu, AT Mahmud mendapatkan  ide berdasarkan spontanitas. Dalam berbagai moment hidupnya selalu ada yang berkesan dan beberapa dijadikannya sebuah lirik lagu yang bermutu. Hal ini pula yang menjadikan AT Mahmud  dipercaya mengasuh acara "Ayo Menyanyi" di TVRI sekitar tahun 1968. Acara yang menjadi favorit anak-anak Indonesia itu merupakan ide orisinal dari AT Mahmud.  Dibantu beberapa rekan sejawat, seperti Ibu Ida (pembawa acara), Ibu Meinar (piano), Kak Djoko (bas), Josep/Acong (biola), Lufty Waluyo (flute) dan Johny Herman (biola).  Selain "Ayo Menyanyi" AT Mahmud juga mengusulkan acara "Lagu Pilihanku" yang juga disetujui pimpinan TVRI tahun 1969. Ajang lomba itu juga mendapat respon positif dari pemirsa TVRI. Kedua acara karya AT Mahmud itu bertahan hingga 20 tahun.

Lagu anak-anak karya AT Mahmud  kembali booming tahun 2000-an. Saat itu,  penyanyi cilik, Tasya (Shafa Tasya Kamila) membawakan 15 karya dari AT Mahmud dan album tersebut sukses dipasaran musik tanah air. Lewat Tasya, karya abadi AT Mahmud, terangkum dalam tiga album : "Libur Telah Tiba", "Gembira Berkumpul" dan "Ketupat Lebaran".

Banyak hal menarik dari membaca buku "memoar" ini, diantaranya semangat seorang AT Mahmud memberikan edukasi kepada anak-anak Indonesia lewat nyanyian.  Karya AT Mahmud mengandung nilai, etika, perilaku dan pendidikan kepada  masyarakat. Hal inilah yang menarik minat sejumlah mahasiswa untuk menelaah sang maestro lagu anak Indonesia ini dan dijadikan bahan kajian ilmiah. [lyz/foto:grasindo]

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini