"Komposer" Masih Jadi Anak Tiri dan dipandang Sebelah Mata.

Kamis, 25 September 2014

Tidak puas dengan  geliat Industri musik Indonesia, Trio Komposer;  Tengku Syafick, Bemby Noor, dan Mario ‘Kacang’ membentuk kelompok vokal  "3 Composer". Sebetulnya, keputusan membentuk group merupakan "kecelakaan".

"Mau tidak mau kami harus tampil. Karena kami yakin tidak banyak orang atau penikmat musik Indonesia yang paham juga, apa sebenarnya komposer itu. Diluar itu,  kami juga melihat penghargaan terhadap orang-orang di belakang layar itu masih minimalis sekali," kata mereka, seperti dikutip dalam blog Airputih.wordpress.

Ada gejolak apa  yang dirasakan, sehingga akhirnya mereka yang biasanya berkutat di belakang "layar", tiba-tiba ingin tampil ke depan menjadi penyanyi? Berikut petikan wawancaranya :


Seperti pernyataan protes komposer karena selalu dipinggirkan nih?

Mungkin memang bentuk protes kami. Pilihan menjadi penyanyi juga sebenarnya karena kami ingin bisa memberi penjelasan juga, bagaimana dan apa komposer itu. Ketika kamu muncul kemudian banyak bersinggungan dengan media, sejatinya kami sedang memberikan informasi dan penjelasan secara gamblang, tentang komposer. Cara protes kami adalah dengan memberikan edukasi.
 

Apakah dengan coba meng-edukasi, artinya Anda harus tampil ?

Kalau kami dikenal, orang tahu tentang siapa kami satu persatu, kemudian suara kami juga didengar, akan lebih mudah untuk menyampaikan sesuatu tentang komposer. Kami bisa bercerita apa pentingnya komposer  bagi penyanyi. Apakah itu pembenaran kami untuk eksis? Bukan pembenaran, tapi pembelajaran dari kami untuk penggemar kami.

Dari yang Anda rasakan, seberapa parah pemahaman industri musik tentang peran komposer itu sendiri?

Wah, kalau soal itu masih parah banget. Semua masih melihat penyanyinya, bukan komposernya. Banyak yang belum tahu juga apa dan bagaimana fungsi komposer sebenarnya. Belum lagi kalau bicara soal transparansi royalti dan perlakuan label kepada komposer. Kami bilang sih, komposer masih seperti anak tiri dan dipandang sebelah mata.

Tampaknya carut marut sekali soal peran komposer. Apakah memang sudah sebusuk itu pemahamannya di industri musik Indonesia?

Kami harus bilang iya.  Royalti komposer itu masih sangat berantakan. Selalu di posisi yang lebih kecil ketimbang penyanyinya. Padahal secara produksi, komposerlah yang berperan banyak. Belum ada royalti progresif dari setiap lagu yang berhasil mendapatkan penghasilan yang baik. Apa yang kami lakukan ini sebenarnya ingin mencari keseimbangan antara label, produser, artis dan komposer. Diluar itu, ada law enforcement yang kami pelajari juga. Pemahaman soal kontrak juga jadi wajib tahu. Kami ingin musik Indonesia juga bersih dan fair.

Jawaban-jawaban kalian menyiratkan ada yang sakit dengan industri musik Indonesia?

Sakit akut!  Ada sesuatu yang tidak ideal terjadi didalamnya. Itu indikasi ada yang sakit pastinya. Satu persatu dari kami, sebenarnya bukan orang baru di industri, tapi percaya atau tidak, dari awal kami terjun ke dunia ini, tidak ada edukasi apapun yang kami terima soal seluk beluk industri musik Indonesia ini. Kami pernah bertanya, tapi tidak pernah ada jawaban yang memuaskan, sementara kami melihat ada banyak yang tidak ideal di depan mata. Meski hal-hal sakit itu tidak akan pernah mengurungkan niat kami sebagai musisi.

Mau Anda jadikan kendaraan seperti apa sih 3 Composer ini kemudian? Ada rencana apalagi yang ingin Anda bentuk?

Kami ingin jadi ikon dari komposer yang bisa diidolakan. Kenapa kami kemudian menyanyikan lagu kami sendiri, karena kami sering kecewa dengan hasil produksi dari penyanyi yang kami kasih lagu. Ada beberapa faktor sih. Tapi kami merasa lagu  yang kami berikan kok tidak sesuai dengan ekspektasi dari sisi produksi. Nah, kalau kita membuat, kemudian menyanyikannya, pasti pendengar akan mendapatkan apa yang seharusnya didapat. Secara kualitas sound, lirik dan komposisi lagunya, akan jauh lebih baik, terdengar kaya dari semua sisi. [djokomoer/airputih.wordpress/foto:istimewa]

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini