Musik, Sikap dan Pilihan Musisi

Senin, 22 Desember 2014

Keluarnya  personel dari sebuah band yang didirikannya, bisa jadi merupakan fenomena yang biasa. Berbagai alasan yang menjadi penyebab  hengkang-nya sang personel,  misalkan karena jenuh, band pasif, terjadi "klik" dengan kru lain, hingga hengkang karena pemecatan.

Tulisan ini sengaja saya buat karena adanya berita hengkangnya, drumer band NOAH, Reza. Menurut banyak sumber ini terjadi karena Reza ingin menekuni agama Islam. Menurut Reza, seperti dilansir media, rencana untuk keluar dari NOAH sebetulnya sudah dipikirkan  sejak jauh hari. Keputusan Reza sempat membuat kaget para personel lain, termasuk pentolan NOAH, Ariel.

Seperti diketahui, NOAH hingga kini masih merupakan band papan atas yang tengah berkibar karir dan popularitasnya. Penggemarnya, bukan hanya di dalam negeri, namun hingga ke manca negara. Dalam hal karir dipanggung musik Indonesia, NOAH tergolong sebagai band yang masih punya karir "panjang". Lalu apakah keputusan Reza keluar dari NOAH merupakan keputusan yang "bodoh"? Padahal, jika dipikir, Reza masih punya kesempatan meraup rupiah bersama NOAH jika masih "nge-band" bareng.


Jika Anda masih ingat,  band papan atas era 90-an, Sheila on 7, juga pernah mengalami hal serupa saat ditinggal sang gitaris, Sakti. Sakti yang kemudian berganti nama menjadi Salman Al-Jugjawy berkeputusan hengkang dari Sheila 0n 7 tahun 2010, saat band asal Yogyakarta itu mulai bangkit kembali dari kevakuman beberapa saat.  Kabarnya, Sakti bergabung dengan jamaah Tabligh lepas dari konsernya di negeri Jiran.

Dalam panggung musik Indonesia, fenomena "cabutnya" sang personel dari band yang sedang hits sudah pernah terjadi, misalkan musisi Gito Rollies, Harry Moekti, dan Yuke Semeru. So, jadi pindahnya para  musisi dari zona hiburan ke zona Religi   merupakan fenomena yang sudah biasa terjadi.

Lalu apa yang menjadi alasan terbesar dari musisi tersebut yang pindah Zona menjadi lebih religi. Menurut penulis, ada sejumlah alasan, pertama, Jenuh. Karir setiap musisi kadang  mengalami pasang surut, apalagi saat persaingan didunia musik kian ketat. Jadwal panggung yang longgar, panggilan manggung sepi, merilis album namun tidak laku, semua menjadi pemicu para musisi berfikir ulang atas karirnya. Apalagi jika sang musisi menjadikan musik sebagai jalan hidup. Saat karir stag, sudah pasti mereka mengalami kejenuhan akut.

Alasan kedua, Merasa "Kehilangan". Saat karir sedang meroket, jadwal panggung padat, album laris terjual sang musisi malah hengkang. Penjelasan ini tentu tidak mudah. Yang pasti, ketika pasar atau industri  musik "meminta" sang idola melakukan peran dramaturgi dalam panggung hiburan. Musisi seakan mengalami "kepalsuan" pencitraan diri. Ya, dia tentu harus menjadi "orang lain" agar terus diidolakan.

Alasan ketiga; Hidayah. Terdengar klise memang.  Namun saat musisi merasa "kehilangan", seperti  dalam poin kedua, Maka, jalan kembalinya adalah "Tuhan". Apalagi kesadaran ini juga terbangun dari banyak kisah kawan-kawan seprofesi dimana banyak  diantara mereka yang sudah tidak ada (meninggal) karena banyak sebab, namun belum sempat kembali ke jalan "Tuhan" . Tragisnya lagi, ada yang terjerat banyak kasus hingga meninggal dunia, dan belum sempat "kembali".

Pada akhirnya, beralihnya profesi dari musisi menjadi "dai" merupakan sebuah pilihan. Banyak cara yang bisa dilakukan saat seorang musisi/penyanyi memang meniti  karir dibidang musik. Melalui musik, musisi bisa tetap melakukan "dakwah" melalui syair-syairnya yang menggugah, juga melalui citra dan kelakuan yang baik saat bermusik, misalkan dekat dengan fans, mengajak kepada kebaikan, melakukan aktivitas sosial, dan masih banyak lagi.

Namun, yang tidak bisa dipungkiri dalam panggung hiburan tanah air, banyak musisi yang "bermain" diarea abu-abu. Maksudnya, mereka ada yang membuat lagu  dengan beragam latar lirik, ada yang menggugah semangat, percintaan, putus harapan, hingga lirik sedih yang membuat banyak orang jadi gagal "move on". Dalam hal tingkah laku musisi juga beragam; ada yang berkelakuan baik, ada yang ambil jalan pintas dengan terlibat Narkoba, pembunuhan, perselingkuhan, dan lain sebagainya.  

Mungkin yang perlu dipahami dari awal adalah, yang namanya panggung hiburan itu penuh dengan gemerlap kesenangan, yang syarat dengan "jebakan",  tinggal bagaimana sang pelaku menyikapi. [abigail/ilustrasi:istimewa]

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini