Sulli, KPOP dan Tragedi Idola Depresi

Minggu, 20 Oktober 2019

Peristiwa bunuh diri dikalangan musisi atau artis mungkin bukan sesuatu yang baru. Masyarakat, apalagi para penggemar, seakan tidak percaya dengan peristiwa yang sedang menimpa  idolanya. Bagaimana tidak? Disaat karir sedang melonjak, tawaran manggung bejibun, ajakan main film melimpah, hingga tawaran menjadi bintang iklan juga banyak,  sang artis malah bunuh diri (suicide). 

Menurut kajian psikologi, seseorang melakukan aksi bunuh diri disebabkan karena putus asa, yang penyebabnya dikaitkan dengan gangguan jiwa. Pemicunya depresi, stress, Atau karena faktor internal pelaku bunuh diri, seperti gangguan bipolar, skizofrenia, dan akibat kecanduan alkohol dan obat-obatan. 

Psikolog yang kerap melakukan kajian Bunuh diri (suicidolog), Benny Prawira Siauw, mengatakan bahwa angka bunuh diri  mengalami kecenderungan meningkat. Sejumlah Negara yang memiliki angka bunuh diri tinggi diantaranya; Amerika Serikat, Jepang, inggris, dan Australia. Namun kini ada fakta baru yang dirilis organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa Korea Selatan masuk 10 besar Negara dengan angka bunuh diri yang terus meningkat.

Dalam kaitannya dengan aksi bunuh artis dan penyanyi korea, Sulli, sebetulnya tindakan bunuh diri dikalangan artis/penyanyi/musisi  sudah lama terjadi. Di Korea Selatan sendiri, kematian yang disebabkan bunuh diri menempati urutan keempat. 

Bagi penggemar artis korea, deretan nama-nama artis yang bunuh diri mungkin bukan rahasia lagi. Nama choi jin sil pemeran drama korea my love, my bride dan the scandal of  my life melakukan aksi bunuh diri Tahun 2008, kemudian Park Yong Ha (2010), Jang Ja Yeong (2009), Ahn So Jin (2015), dan masih banyak lagi yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. 


Dalam skala Dunia, kita mengenal  pentolan group musik grunge atau rock alternatif Nirvana, Kurt Cobain. Dia meninggal diusianya yang relatif sangat muda, 27 Tahun. Cobain tewas setelah menenggak sampanye  yang dicampur berkadar alkohol tinggi, rohypnol.

Kurt Cobain sepertinya memang sudah menyiapkan diri untuk kematiannya. Terbukti ditemukannya tulisan beliau dalam lembaran kertas dalam jaketnya, beberapa saat setelah dia dinyatakan tewas. Salah satu kutipan tulisannya : 

"Sewaktu kita bersiap berada di belakang panggung dan lampu-lampu mulai dipadamkan, kemudian penonton berteriak histeris... kejahatan terbesar yang pernah kulakukan adalah menipu kalian dengan memalsukan kenyataan  dan berpura-pura  bahwa aku 100 persen menikmati saat-saat di atas panggung..."

   

Peristiwa lainnya adalah apa yang dilakukan raja musik pop Dunia,  "The King of Pop", Michael Jackson juga menempuh jalan yang sama, meninggal setelah menenggak obat-obatan yang mengandung senyawa berbahaya, apalagi Jika mengkonsumsi berlebih. CNN menyebutkan, Michael Jackson, meninggal karena mengkonsumsi propofol, lorazepam dan midazolam secara bersamaan. 

Dalam industri hiburan negeri ginseng itu, penyanyi dan bintang film memang menempati urutan bergengsi dalam strata karir seseorang. Mereka melejit cepat menjadi tenar karena bentukan korporasi penggiat Dunia hiburan. Apalagi Korea didunia dikenal dengan bawaan budaya pop baru, KPOP. Geliatnya begitu menghipnotis para penikmat hiburan, seperti musik dan film. Dan Hal yang tidak bisa di nafikkan adalah negara mendukung penuh model ekspansi budaya ala korea tersebut yang disajikan  dalam film dan musik.

 Derasnya minat generasi muda korea untuk bisa terjun Ke industri kpop culture, sepertinya belum bisa dibendung. Kanal menuju kesuksesan banyak dimotori oleh perusaahan berskala besar, dan hampir semuanya menjanjikan sukses dengan capaian nominal maksimal dan hidup nyaman. 

Yang terlupakan dari pergerakan itu adalah, usaha mempersiapkan kepribadian sang artis kurang dilakukan. Kesiapan mental menjadi sukses Atau gagal kerapkali tidak dimiliki mereka generasi muda pelaku utama di Industri hiburan.

Di sisi lain, Korea yang memiliki tradisi keterbukaan, tanpa tedeng aling, to the point, blakblakan dalam menyikapi sesuatu menjadi boomerang bagi dunia pergaulan disana, apalagi yang bergiat diranah panggung hiburan.

Dan, dengan makin berkembangnya teknologi digital (internet) sang artis, penyanyi atau manajemen mendapatkan beban lebih untuk bisa merespon. Hinaan, cibiran dan kritik pedas kadang membuat sang artis --yang juga bermain medsos-- tak siap merespon. Gemerlap panggung, tepuk tangan pujian, hingga honor yang melimpah dan hidup mewah kadang bertolak belakang dengan kenyataan, tidak semuanya penikmat pertunjukan memujanya. 

Perlu mentalitas Baja untuk bisa merespon ketenaran. Tenar tidak selamanya enak. Ketenaran kadang membatasi ruang gerak, dan bagi artis Ini berarti kesendirian dan menjadi teralineasi dari dunia rill yang pernah  dialaminya saat awal karir.

Menyalahkan manajemen artis, tentu Ini bukan cara yang bijak, dan bahkan tidak tepat. Sebagai agency yang menaungi banyak artis, sangat  tidak mungkin menghandle person to person artis. Lagi pula, agency juga dijubeli dengan pekerjaan yang melimpah dan tanggung and jawab yang besar. 

Hal yang jadi penting dalam menyikapi Ini adalah memperkuat kembali instrumen keluarga yang dipagari dengan nilai-nilai, etika dan aturan. Bila saja instrumen agama yang bisa di kedepankan, ini bisa menjadi semacam pagar penguat mental dan spiritual sang artis untuk siap menempuh and kesuksesan atau kegagalan.

Yang cukup menarik terkait dengan fenomena bunuh diri diatas, adalah dunia  keartisan di tanah air. Belum ada studi yang memberi catatan, angka bunuh diri dikalangan artis atau penyanyi  di Indonesia. Yang terjadi adalah meningkatnya artis/ penyanyi yang terjaring kasus narkoba. Karir yang baik kadang tercoret akibat sang artis menggunakan atau menjadi  bandar  narkoba. 

Fenomena unik lainnya adalah, ketika artis berada di puncak karir, tidak sedikit yang akhirnya melakukan aksi hijrah. Yakni aksi kembali "ke jalan Tuhan". Semacam  refleksi spiritual tentang makna hidup dan menempuh jalan  itu sebagai model instropeksi. 

Dalam konteks kreativitas dan packaging, KPOP memang memiliki kelebihan. Jika Hal yang ini menjadi trend, itu memang sudah jalannya. toh, trend juga ada masanya. Yang lebih penting adalah, ketika kita menikmati sebuah  popularitas jangan lupakan nilai-nilai  dari mana kita  berasal dan mengingat diri bahwa banyak yang mencintai kita. 

Karir dan popularitas bukanlah segalanya. Menjadi  idola itu juga membawa be an  dan tanggung jawab, minimal untuk diri sendiri dan maksimal menjadi inspirasi bagi banyak orang, untuk menjadi lebih baik, manfaat dan hidup lebih bermakna.

 



Sr lysthano

Penulis dan penikmat seni,
Founder Institute for Indonesia Music Studies (IIMS)

 

 

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini