Konser KUNOKINI - Seenaknya & Kini Nggak Kuno

Sabtu, 22 Januari 2011
Konser KUNOKINI -  Seenaknya &  Kini Nggak Kuno
SEMANGAT berkesenian memang tak mengenal batas. Bahkan kontribusi bentuk keseniannya pun, tak melulu harus mengikuti trend atau “maunya”  pasar semata.  Trend atau pasar, tak bisa mendikte keinginan untuk “meledakkan” geram budaya dalam segala bentuknya. 

Kalau menyebut KUNOKINI, rasanya kita akan sedikit mengangkat alis, lantaran kelompok ini lebih mengusung perkusi sebagai bagian proses berkeseniannya. Bhismo, Bebi dan Akbar, sangat sadar pilihannya adalah “minoritas” dan tidak popular. Tapi bukankah gejolak itu tak bisa dibendung oleh keinginan untuk tenar semata?

Dan di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa [18/01/2011] lalu, ditambah Darman sebagai pemain pendukung, KUNOKINI mengejawantahkan ‘perlawanannya’ itu dengan apik dalam konser musikal bertajuk ‘Re-Inkarnasi’ – sesuai dengan nama albumnya yang dirilis oleh demajors, 2010 silam.

Konsernya sendiri, meski terkesan “njawani” tapi kita seperti dibawa pada nuansa antah berantah yang unik. Tak bebunyian lain, selain ketukan perkusi yang rancak –meski sesekali terdengar out ot tunes – dan aksi panggung yang “seenaknya” saja. Kadang-kadang menggelar tikar di panggung, saling mencela dengan jenaka, dan bergoyang reggae.

Bicara soal reggae, KUNOKINI tampaknya cukup mengeksplorasi reggae sebagai entitas bermusiknya. Beberapa komposisinya [dan cara olah vokalnya], menyitir ornament reggae. Meski itu bukan core-musical kelompok ini. Sebutlah komposisi berjudul Forest Addict, Bamboo Raining yang mellow atau 350 Years

KUNOKINI juga menggebrak dengan judul lagu Re-Inkarnasi, para personil Kunokini terlihat begitu energik menabuh peralatan musik mereka. Mencoba mengkolaborasikan instrumen musik Nusantara seperti gendang, rebana, dol dengan peralatan musik djimbe dari Afrika, mereka berhasil menciptakan harmonisasi sound musik yang catchy dan enak untuk didengar.

Tiba-tiba mereka mengubah lagu daerah berjudul Blue Yamko yang terkesan kuno itu, dengan komposisi bunyi yang sedikit nyeleneh. Ah, percaya atau tidak, meski tampaknya hanya nikmat dinikmati di atas panggung, lagu asal Papua ini terdengar lebih cair dan renyah. KUNOKINI mencoba eksplorasi dengan alat musik Seperti tifa, kulintang, alat musik tiup fu dan ditambah djimbe. Uniknya, mereka mencoba memainkan dengan tempo sedikit nge-beat.

Mari melawan dengan bunyi, pesan itu yang saya tangkap saat mendengar komposisi Indo Baru.  Mengkritis memang tak harus berteriak di jalan, dan KUNOKINI melakukannya lewat tabuhan itu. Ada yang complain?  Meski makna perlawanan itu harus dijabarkan lebih jelas, tapi cara-cara seperti merekalah yang sebenarnya bisa “menghasut” dalam waktu yang lebih lama. 

Dan area perkusi ini, diakhiri ketika personilnya membawakan syair dan bebunyian Rasa Sayange sebagai penutup. Elemen tradisi itu mengakhiri pencariannya [sementara] di konsernya kali ini.  Sebuah eklektik yang “menganggu” kenyamanan, tapi komposisi dan perlawanan yang menyenangkan, ketika semua memilih keseragaman. 

KUNOKINI [dan komposisinya], kini tak dianggap kuno lagi…[djoko moernantyo/foto: novril TNOL]

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini