Lakon Penuh Improvisasi Yang Kondusif

Selasa, 17 Juli 2012
Lakon Penuh Improvisasi Yang Kondusif

Gelap gulita menyelimuti Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Kemudian terdengarlah rekaman suara pidato Soeharto yang menyatakan pengunduran diri dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia. Setelahnya layar putih raksasa di panggung memproyeksikan cuplikan-cuplikan gambar suasana Indonesia dan pergantian presiden setelah era Soeharto. Sebelum akhirnya terpampang judul Kabayan Jadi Presiden, terpaparlah foto almarhum Raden Aang Kusmayatna Kusumadinata alias Kang Ibing, almarhum Achmad Yusuf atau Us Us, Didi Widiatmoko alias Didi Petet, Tisna Sanjaya dan Harry Roesli.

Kang Ibing adalah pemeran Kabayan di film Si Kabayan tahun 1975. Abah Us Us menjadi Kabayan di era 80-an yang tayang di televisi pemerintah. Didi Petet berkali-kali menjadi Kabayan di Si Kabayan Saba Kota (1989), Si Kabayan dan Gadis Kota (1989), Si Kabayan dan Anak Jin (1991), Si Kabayan Saba Metropolitan (1992), Si Kabayan Mencari Jodoh (1994) serta rangkaian sinetron Si Kabayan yang tayang di televisi swasta dari 1996-1999. Sedangkan Tisna Sanjaya adalah pemeran terbaru Kabayan untuk pementasan Kabayan Jadi Presiden. Entah alpa atau disengaja, Jamie Aditya yang sempat menjadi Kabayan di Kabayan Jadi Milyuner (2010) tak turut ditampilkan dalam deretan foto pemeran Kabayan.

Lalu apa hubungan Harry Roesli dengan Kabayan? Kehadirannya diwakili oleh anak-anak asuh dari Rumah Musik Harry Roesli yang turut andil mengisi musik untuk pementasan ini dengan nuansa distorsi musik rock. Suasana pedesaan dan budaya Sunda menjadi bagian tanggung jawab ORGANDA alias Organisasi Gamelan Sunda. Lantunan musik karinding berbalut metal dikumandangkan oleh Karinding Attack yang berganti nama menjadi KPK alias Kelompok Pecinta Karinding khusus di perhelatan ini. "Maap Kami Tidak Tertarik Pada Politik Kekuasaan" sempat dibawakan dengan lirik sesuai tema yang diangkat Kabayan Jadi Presiden.

Kabayan Jadi Presiden mengisahkan tentang Kabayan yang prihatin dan merasa gelisah dengan semakin carut marutnya kondisi negeri yang tempat bernaung. Ditambah lagi kekisruhan akibat persaingan elit politik yang hanya mementingkan golongan. Dengan dukungan Aa Gim yang mendapatkan wangsit, Kabayan pun mengajukan diri menjadi presiden meski ditentang habis oleh Iteung.

Hal tersebut mendapat perhatian dari Partai Cak Cak Bodas yang kuatir dengan kepopuleran Kabayan. Pengurus partai kemudian menyusun strategi mengusung Kabayan sebagai presiden dan menjadi boneka mereka dalam kekuasaan yang diperoleh. Akhirnya Kabayan pun menang dalam pemilihan presiden. Namun semua kebijakannya yang berdasarkan pada hati nurani bertentangan dengan kemauan partai. Mereka pun mengajukan impeachment kepada Kabayan. Akhirnya Kabayan sendiri pun mengaku tidak mempunyai kemampuan untuk membawa negerinya ke arah yang lebih baik.

Entah disengaja atau tidak, pementasan Kabayan Jadi Presiden yang merupakan rangkaian Indonesia Kita diselenggarakan pada 13-15 Juli 2012. Bertepatan dengan dua hari setelah masyarakat Jakarta melakukan pemilihan Gubernur dan Calon Gubernur baru. Tak pelak, kondisi tersebut menjadi materi yang digunakan dalam dialog. "Memang, sekarang kumis sudah kehilangan pamor," keluh Ketua Partai Cak Cak Bodas yang berkumis. Penonton pun tergelak, paham akan mengarah kemana maksud dialog tersebut. Urusan pemerintahan pun tak luput dari sindiran. Mulai kasus Hambalang, Wakil Menteri, ketidaktegasan pemerintah, maupun nasib para pahlawan devisa.

Tim kreatif tampaknya membebaskan para pemain untuk bebas berimprovisasi. Alhasil kerap kali cerita melenceng dari skenario. Pemain bahkan sampai lepas kontrol tertawa terbahak-bahak di atas panggung. Tisna bahkan sampai tertawa sambil tiduran di atas panggung. Penonton pun sepanjang pentas tak henti tergelak melihat bodoran yang disuguhkan. Namun meski melenceng dari skenario, pementasan ini, seperti yang kerap diucapkan tokoh intelijen yang diperankan Budi Dalton dan Herry Antha, berlangsung kondusif.

Tokoh Kabayan tidak hanya seorang namun ada dua orang lagi. Didi Petet dan Oni "SOS" turut menjadi Kabayan. Ketiga Kabayan tampil bersama menjadi teman diskusi ketika ada masalah yang membingungkan. Menariknya lagi, Kabayan Jadi Presiden menjadi ajang reuni bagi mereka yang pernah terlibat dalam film atau sinetron Kabayan. Didi Petet bertemu kembali dengan Meriam Bellina setelah sebelumnya di Si Kabayan dan Gadis Kota (1989). Didi menjadi Kabayan dan Meriam sebagai Inge. Kemudian bertemu lagi di Kabayan Jadi Milyuner (2010), kali ini keduanya menjadi Abah dan Ambu. Peggy Melati Sukma mengurang kembali perannya sebagai Iteung di sinetron Si Kabayan dan bertemu kembali dengan Didi di Kabayan Jadi Presiden.

Kabayan adalah keluguan, kearifan, kecerdasan dan kejenakaan. Inilah local genius. Sifat dan watak seperti itu bukan hanya sebagai milik masyarakat budaya Sunda. "Kabayan adalah kerinduan dan harapan kita pada pemimpin yang benar-benar mengubah nasib rakyatnya. Kalau di Melayu ada tokoh Hang Tuah, Sunda ada Kabayan, Solo ada Joko Tingkir," jelas Butet Kartaradjasa, sebagai salah satu tim kreatif bersama Agus Noor dan Djaduk Ferianto, dalam pengantar sebelum pentas dimulai.

[Yose/IT/foto:Yose]  

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini