Pentas Kolaborasi Impian Indra Lesmana dan Marcell Siahaan

Kamis, 19 Juli 2012
Pentas Kolaborasi Impian Indra Lesmana dan Marcell Siahaan"Akhirnya, setelah 10 tahun kesampaian juga buat nyanyiin lagu ini," terang Indra Lesmana. Lagu yang dimaksud adalah "Ribbon In The Sky" milik Stevie Wonder. Tentu tak perlu menunggu selama itu karena Indra bisa saja menyanyikan lagu itu setiap saat dia mau. Namun keinginan untuk menyanyikan bersama Marcell Siahaan yang harus terpendam selama itu. Keduanya mengakui telah sejak 2002 ingin berkolaborasi membawakan lagu tersebut.

Telah lama pula Indra dan Marcell mempunyai rencana untuk tampil satu panggung bersama. Kolaborasi tersebut baru hanya sebatas Indra sebagai produser album Marcell. Rabu, 18 Juli 2012, malam, keinginan mereka terwujudkan dengan mengadakan pentas di Red White Jazz Lounge Kemang. Mereka dibantu oleh Rayendra Sunito (drum), Topan Abimanyu (gitar), Rejoz "The Groove" (perkusi), serta Fajar Adi Nugroho (bass).

Indra mengatakan bahwa malam itu lagu yang dibawakan adalah yang menjadi favorit mereka berdua. Bersama pemilik nama lengkap Marcellius Kirana Hamonangan Siahaan itu, keduanya menyenangi musik-musik new wave serta adult contemporary. "Everybody Wants To Run The World" yang dipopulerkan oleh Tears for Fears membuka pentas. Dilanjutkan oleh "Sweetest Taboo" milik Sade dan lagu milik TOTO, "Georgy Porgy".

"Seharusnya saya pakai wig kribo nih," canda Marcell sebelum menyanyikan lagu milik Gino Vanelli yang pernah menempati peringkat 6 Billboard's Top 100 pada April 1981, "Living Inside Myself". Suasana sangat akrab dan penuh canda yang dibangun oleh Marcell. Dua lagu milik Humania, "Katakanlah" dan "Jelita", berturut-turut dibawakan. Indra pun memberikan kabar gembira bahwa Humania akan bangkit dari "kubur" memproduksi album baru, setelah terakhir album Interaksi 12 tahun lalu.

Marcell pun tak lupa membawakan lagu miliknya "Jiwa Yang Hilang" yang dicuplik dari album kedua, Denganmu. Suasana syahdu pun menyelimuti ketika alunan suara Marcell hanya ditemani denting piano yang dimainkan Indra ketika "Ribbon In The Sky" dibawakan. "Saya pakai kacamata malam ini bukan karena ingin meniru Stevie Wonder," terang Indra yang langsung ditimpali Marcell,"kan biar kelihatan keren."

Era 80-an adalah masa kejayaan band pengusung rock dan new wave, Duran Duran. Tak heran bila penonton kemudian mendengarkan pengakuan Indra yang pernah meniru gaya rambut pemain bass Duran Duran, John Taylor. Kemudian meluncurlah "Ordinary World" yang memeriahkan suasana malam yang dingin selepas hujan. Selanjutnya, salah satu dari 14 lagu milik Hall and Oates yang lebih dari satu juta kali telah diputar di radio menurut BMI, "I Can't Go for That (No Can Do)" dibawakan.

Suasana semakin "kacau" ketika lagu milik Gino Vanellii, "Appaloosa", dengan ritme dinamis dan menghentak dibawakan. Topan dan Rayendra diberi kesempatan untuk solo. Indra dengan garang "menyiksa" keyboard. Alhasil penonton memberikan standing applause demi melihat aksi rancak tersebut.

Sepotong lagu "Firasat" dibawakan Marcell atas permintaan khusus dari ibunda Indra, Nien Lesmana. Setelahnya mengalunlah sebuah lagu daur ulang milik Armada "Mau Dibawa Kemana". Berawal dengan irama swing, improvisasi sebagaimana galibnya musik jazz pun diselipkan. Mendadak nada keroncong ikut menyeruak di lagu tersebut.

Berakhir pula pentas yang lama diinginkan untuk dapat terwujudkan. Namun sepertinya masih ada harapan agar kolaborasi tersebut dapat berlangsung lagi di kesempatan mendatang. "Semoga nanti bisa beneran pake wig kribo dan menumbuhkan bulu dada," canda Marcell.

[Yose/IT/foto:Yose]
comments powered by Disqus