IWAN FALS - RAYA


Musisi pop legendaris Indonesia, Iwan Fals, baru saja mengeluarkan album baru bertajuk "Raya". Seperti pendekar yang keluar dari "persembunyian", di album baru ini Iwan Fals seakan mengeluarkan wujud dirinya yang asli, sebagai membawa lagu yang sarat dengan kritik dan keresahaan, sebagaimana album Iwan Fals era 80-an.

Lewat "Raya", Iwan Fals Kembali Ke Khitah

Musisi pop legendaris Indonesia, Iwan Fals, baru saja mengeluarkan album baru bertajuk "Raya". Seperti pendekar yang keluar dari "persembunyian", di album baru ini Iwan Fals seakan mengeluarkan wujud dirinya yang asli, sebagai membawa lagu yang sarat dengan kritik dan keresahaan, sebagaimana album Iwan Fals era 80-an.

Seperti diketahui, publik mengenal sosok Iwan Fals lewat lagu-lagu yang kritis dan  menyentil era tahun 80-an. Sangat sulit dilupakan tembang kritis Iwan Fals seperti  "Sugali", "Pesawat Tempur", "Guru Oemar Bakrie", "Surat Buat Wakil Rakyat", dan lain sebagainya. Lagu yang simple dan merakyat, dan dalam hal komposisi sangat nyaman untuk dinikmati. Belum lagi liriknya yang sangat "kena" dengan kondisi yang terjadi saat itu. Dan, ternyata hingga saat kini  suara protes iwan fals dulu juga masih sangat relevan.

Namun, dalam perjalannya, kiprah Iwan Fals dalam mencipta lirik-lirik yang kritis mulai dipertanyakan penggemarnya. Dalam berbagai kesempatan, tidak sedikit   publik  dan penggemar bertanya; kenapa belakangan Iwan Fals lebih banyak menulis lirik cinta?  Apalagi setelah album "Iwan Fals In Collaboration With" (2002). Dimana dalam album itu banyak karya musisi muda yang bertema cinta dinyanyikan Iwan Fals, seperti karya Pongky (Jikustik), Eross (Sheila On 7), Harry Roesli, Aziz (Jamrud), Piyu (Padi), Ahmad Dhani (Dewa), Tohpati, dan  Kikan (Coklat).

Kreativitas Iwan Fals pun "dituduh" stagnan kala itu. Namun, Iwan Fals segera menjawab dua tahun kemudian dengan album "Manusia Setengah Dewa" (2004). Lirik yang "nakal" dan "pedas" menghiasi deretan lagu dalam album ini, seperti ‘Asik Nggak Asik’, ‘Manusia Setengah Dewa’, ‘17 Juli 1996’, ‘Dan Orde Paling Baru’, ‘Buktikan’, ‘16 Juli 1996’, ‘Ngeriku’, ‘Matahari Bulan Dan Bintang’, ‘Desa’, ‘Para Tentara’, ‘Mungkin’,  dan ‘Politik Uang’.  Namun ada kejadian yang tidak mengenakkan dalam album ini, karena ilustrasi cover  diprotes umat Hindhu karena menampilkan gambar salah satu dewa mereka.  Iwan Fals pun merasa bertanggung jawab, bersama Musica dengan cepat dia menghentikan peredaran kasetnya.

Satu tahun berselang, 2005, Iwan Fals melansir "Iwan Fals In Love", disusul dengan album "50:50" tahun 2007. Lagi-lagi  Iwan Fals mengolah lirik cinta. Sejumlah lirik kritis memang sering terlontar Iwan Fals, namun bukan dalam album. Iwan Fals kerap kali membawakan lagu-lagu yang pernah dipopulerkan dirinya bersama SWAMI dan Kantata Takwa hanya sebatas panggung.

Iwan Fals pun "dituduh" seakan kehilangan "nyali" untuk berteriak lantang. Situasi sulit yang dialami negeri ini,  tidak menyentuh Iwan Fals untuk kembali mencipta lagu kritis.  Bahkan dalam beberapa kesempatan Iwan Fals lebih sering muncul sebagai bintang Iklan sejumlah produk, diantaranya motor, dan belakangan  dia menjadi ikon sebuah produk kopi.

Kembali ke Khitah ?

Kemarin, di cafe Rolling Stones, Iwan Fals meluncurkan album baru. Tidak tanggung-tanggung, 18 lagu baru langsung diluncurkan dalam bundel album "Raya". Album dua keping tersebut dijual terbatas. Masyarakat dan penggemar  bisa membelinya dengan cara memesan langsung ke manajemen Iwan Fals, "Tiga Rambu". Dalam hitungan minggu saja, konon yang memesan lebih dari 1000 copy. Titel album yang diambil dari nama anaknya "Raya" itu dijual dengan dibundel prooduk Kopi dan Majalah.

Seperti sebuah "jawaban" dari IWan fals atas keresahan penggemarnya.Di"Raya" Iwan Fals menampilkan lagu  yang  bervarias, namun di dominasi dengan lagu yang kritis seperti "Negeri Kaya", "Katanya", "sampah", "Si putri dan Si Fulan", Dajal Net, hingga "Rekening Gendut".

Iwan Fals yang piawai membawakan gitar, seperti total "membumbui" iramanya dengan alunan gitarnya yang menyihir. Seperti dalam "Raya", petikan gitar layaknya lagu "Galang Bambu Anarki" terdengar sangat khas. Suara khas iwan fals mengingatkan kita ketika penyanyi kelahiran jakarta itu pertama kali muncul. Olah vokalnya yang prima dan stabil, kemudian vibrasi suara, benar-benar seperti saat dia pertama kali muncul dalam panggung musik Indonesia.

Orisinilitas Iwan Fals yang bergerak menjadi penyanyi panggung, seperti saat beliau terlibat dalam SWAMI dan Kantata Takwa, dimana unsur-unsur ritmik alat musik tradisional mulai dimasukkan, misalkan kendang, violin, klenengan sapi, ukulele, accordion, gendang, flute dan tammborine.Simak dalam "Katanya" dan "Gadis Petani" Musik akustikan khas iwan fals dipadu dengan setuhan nada-rendah yang kemudian menjadi tinggi diselingi dengan teriakan khas. Iwan Fals juga menggamit penyanyi wanita muda berbakat yang memiliki suara khas  yang meliuk dan pintar bermain dalam nada-nada tinggi. Lea Simanjuntak seperti memiliki "chemistry" dengan suara Iwan Fals karena kemampuannya bermain dalam nada yang rendah hingga tinggi.

Soal lirik, Iwan Fals seperti kembali ke"Khitah"nya. Dia dengan lantang teriak tentang korupsi (Rekening Gendut), tentang Sampah, tentang Indonesia yang "dirampok', kemudian tentang pejabat yang berulah (bangsat).   Kalau orang miskin dilarang sakit/tentulah makam akan bertambah sempit/kalau orang miskin tak boleh pandai, tentu serakah semakin menyeringai...katanyanya, Zamrud khatulistiwa, nyatanya kilau air mata, katanya serpihan surga, nyatanya..oh...

Iwan Fals juga masih melantunkan lirik yang cukup menyentuh, misalkan dalam "Adalah" dan Lekas Sembuh. Dalam tembang "adalah", Iwan Fals mengguratkan lirik sebagai tanda syukur kepada Ilahi telah dihadirkan  "Rosana" atau yang dikenal dengan Yos, sang istri tercinta, juga saat dia mengalunkan "Lekas Sembuh" sebagai lagu support terhadap kawan sesama musisi yang sedang terbaring sakit.

Menyimak album "Raya" kita seakan dibawa kemasa lalu, termasuk kita diingatkan dengan  gaya musik Iwan Fals saat bermain dengan gitaris Ian Antono dan Setiawan Djodi. Ya, peran gitaris serba bisa "Totok Tewel" dialbum ini memang tidak bisa dilepaskan dari gayanya yang  rock'n roll. Totok Tewel secara meyakinkan membubuhi lagu Iwan Fals dengan cabikan gitarnya, plus dengan permainan okulele seperti dalam "rekening gendut" dan "Si Putri Dan Si Fulan".

Banyak yang berharap album ini menjadi tanda kebangkitan kembali Iwan Fals, baik  dalam hal musikalitas, maupun soal lirik yang kritis. Meski tidak bisa dipungkiri, menggelorakan lagi semangat bermusik Iwan Fals tidak lah mudah dalam situasi seperti sekarang ini. Ditengah situasi industri musik yang"lesu", belum lagi maraknya pembajakan. Maka, tidak juga bisa disalahkan ketika Iwan Fals mengambil jalur "aman", yakni dengan menggandeng sebuah produk kopi untuk promosi, dan menempuh jalur distribusi Independent yang dinaungi label dan manajemennya sendiri. [lyz/foto:TigaRambu]