Lebih Dekat Dengan Iwang Noorsaid

Iwang Noorsaid

Iwang Noorsaid, pemain keyboard handal yang lahir di Jakarta 26 July 1967, anak dari almarhum Said Kelana. Lingkungan rumah  adalah penyerapan pada setiap kali latihan yang menyebabkan musik bagi Iwang Noorsaid menjadi familiar, hal itu terjadi sejak Iwang berusia 2-3 tahun, dan ini secara tidak langsung menyebabkan terjadinya pendidikan dan pemahaman, orang tua juga yang mengharuskan bermain musik. Awalnya mulanya Iwang belajar organ Farfisa dua susun produk Itali, umur 4-5 tahun Iwang sudah mulai mencet tuts-tuts, teknis bermain piano sebelum sekolah yaitu sekitar umur 5 tahun, pada saat itu belum bisa baca not.

Nick Mamahit dan Romy Katindig secara bergantian datang ke rumah Iwang untuk bermain klasik, pada saat itu Iwang Noorsaid belajar klasik umur 8-9 tahun Iwang bermain keyboard bersama The Kid Brothers, main piano dan peralatan kecil lainnya. Kesempatan bermain musik di TVRI tidak disia-siakan Iwang, ini terjadi era 1977-1978. Pada umur 14 tahun Iwang main musik dengan Embong Rahardjo dan Yance Manusama, ikut rekaman dengan James F Sundah.

Pertengahan  Tahun 1986 Iwang Noorsaid membentuk grup band fusion yang diberi nama EMERALD yang terdiri dari Iwang Noorsaid (Keyboards), Inang Noorsaid (Drums), Roedyanto (Bass) dan Morgan Sigarlaki (Gitar). Emerald mengikuti event musik yang diadakan oleh Yamaha yaitu Light Music Contest (LMC) 1986 dan meraih juara pertama.

Tahun 1987 Iwang Noorsaid ikut membantu aransemen untuk album Keraguan 2D, bermain bersama Dimensi Band bersama Yuke Semeru (Bass) dan sempat merilis single-nya lewat lagu Pasti yang terdapat dalam album 10 Bintang Nusantara, produksi Team Records. Iwang juga  pernah bermain bersama Funk Section.

Pada tahun 1988 kembali Emerald mengikuti LMC yg namanya telah berubah menjadi Band Explosion (BEX) dan Emerald meraih juara 1 Band Explosion 1988 tingkat nasional, Juara 1 Band Explosion wilayah asia oceania di Hongkong 1988 dan meraih  silver grand prize pada World Final Band Explosion di Jepang 1988 dan sekaligus meraih The Best Keyboard & The Best Drums performance.

Band Explosion di Jepang juara I adalah Australia, Juara II adalah Amerika dan Silver Grand Price (Juara III) adalah Indonesia / Emerald . Pada saat itu Iwang Noorsaid yang meraih penghargaan sebagai pemain keyboard terbaik dgn usia relative muda yaitu 21 tahun, dimana mendapatkan hadiah piala yang bertuliskan Yamaha Nescafe World Final Band Explosion 1988. Sebagai informasi, World Final  Band Explosion di Jepang diikuti oleh Negara-negara yang telah lolos seleksi seperti Jepang, Brazil, Philipines, Hongkong, Afrika Selatan, New Zealand, Argentina, Belanda, Jerman, Rusia, Italia, Spanyol, Portugal, US dan termasuk Indonesia. Penghargaan player terbaik lainnya pada BEX 88 adalah : drummer terbaik Cendy Luntungan (Indonesia/Emerald), gitaris terbaik disabet Jerman, pemain Bass terbaik diraih USA, dan vokalis terbaik dari Australia. Emerald membawakan komposisi Karapan Sapi pada BEX 1988.

Bersama Emerald, Iwang merilis album perdana mereka yaitu "Cemas" produksi Granada Records dengan vokalis Diah Parwita  yang merupakan teman nge-band nya Iwang semasa di SMAN 68 Jakarta, juga menghadirkan vokalis  tamu Utha Likumahuwa dan Jean Retno. Iwang bersama Emerald kembali merilis album kedua yang diberi judul Karapan Sapi, Cendy Luntungan keluar dan masuk Yayang (ex. Black Fantasy) untuk posisi drums, untuk vokalis Emerald memilih Ricky Yohannes yang juga merupakan teman satu sekolah Iwang di SMAN 68.

Iwang Noorsaid terus bereksplorasi dengan mengaransemen albumnya Iwan Fals ( antara aku, kau dan bekas pacarmu ), kenal dengan Iwan Fals di Musica Studio. Iwang juga mengaransemen untuk albumnya Trio Libels, lagunya Yana Julio (emosi jiwa), salah satu lagu dalam albumnya Kridayanti ( terserah, 1996) tidak hanya eksplorasi di jalur pop industri , Iwang pada tahun 1992 membentuk grup jazz fusion KITA dan grup ini tampil mewakili Indonesia pada  North Sea Jazz Festival di Belanda tahun 1992. KITA juga sempat merilis album dengan format indie label dengan mengahadirkan empat komposisi yaitu Blues for W.H.O,Time Out,Monkey Dance,dan Kita Song. KITA dengan formasi: Iwang Noorsaid ( Keyboards, computer programmer ), Cendy Luntungan ( Acoustic Drums ), Bintang Indrianto ( Electric Bass ), Yongki R (Electric Gitar). Segudang peralatan canggih digunakan Iwang dalam explorasinya di album tersebut seperti Roland JD 800, Roland JX 10, Yamaha DX-7II, Yamaha TG 77, Yamaha KX 88, Emu Proteus, Oberheim Matrix 6, Komputer VST, Mixer Alesis 16 EFX, Roland D 1500. Pada saat KITA tampil di North Sea Jazz Festival di Belanda, banyak audience yang disana yang heran merasa aneh karena kesan yang ditangkap adalah Indonesia Modern dan  mereka mengapresiasi KITA dengan baik.

Iwang juga pernah merilis solo album yang diberi judul Sekilas produksi Granada Records.
Pada tahun yang sama Iwang Noorsaid bersama-sama dengan Iwan Fals, Cok Rampal, Heirrie Buchaery, Jerry Soedianto, Bagoes AA, Arie Ayunir dan Jalu merilis  album HIJAU produksi Prosound, di album ini Iwang bereksplorasi dengan mendalam dengan instrument Roland JD 800.

Eksplorasi bersama beberapa teman-teman di HIJAU terus berlanjut ke Gelombang Putih, dimana Iwang bermain piano perkusi. Tahun 1993-1994 Iwang Noorsaid masuk ke Adegan untuk sementara waktu saja. Tahun 1995 Iwang Noorsaid membentuk KALAHARI dan merilis album tersebut menghadirkan enam komposisi yaitu Satu Dunia, Nabila, Mata & Hati Kita, Kalahari, Sebatas Angan, Ketika Burung-Burung Tak Bernyanyi Lagi. Kalahari dengan formasi  Iwang Noorsaid (Keyboards), Yance Manusama (Bass), Inang Noorsaid (Drums) dan Dave (Alto Sax).

Album Kalahari direkam pada  tahun 1995, dirilis secara indie label melalui kantong studio tahun 1996. Pada album Kalahari tersebut Iwang Noorsaid menggunakan peralatan seperti AKAI PCM 20 sampler, Roland JV 1000, Yamaha KX 88, Yamaha SY 77, Prohet 5, Roland MC 50, Emu proteus 2, Emu Procusion, Roland D550, Roland Jupiter 8, Mixer Mackie 1604. Semua lagu adalah merupakan ciptaan Iwang Noorsaid. Album Kalahari ini dapat kita simak bagaimana eksplorasi Iwang Noorsaid pada tuts-tuts keyboardnya dengan tempo rapat dan jelimet tapi tetap enak untuk didengarkan dan tetap dalam koridor jazz fusion yg menghentak dan kaya akan harmoni.

Tahun 1996 Iwang juga bereksplorasi dengan musik etnik yaitu kelompok kampungan.
Perjalan bermusik seorang Iwang Noorsaid terus berlanjut ke Malaysia selama dua bulan bersama Zainal Abidin keliling Jepang, beberapa negara lainnya.

Tahun 1998 Iwang bergabung dengan Gong 2000 secara temporer, tahun 2002 juga bergabung dengan God Bles dimana main secara termporer. Tahun 2006 membentuk grup jazz yaitu Story tellers dimana Iwang Noorsaid menggunakan elektrik piano /synthesizer, Krisnha Siregar (elektrik /akustik  piano), Doni Sundjoyo (akustik bass) dan Inang Noorsaid (drums). Grup ini tampil di festival-festival jazz di Jakarta juga workshop di beberapa sekolah musik di Jakarta. Pada  22 Mei 2008 yg lalu pada 1st anniversary komunitas Jazz Chic’s Music di Rawamangun, Iwang Noorsaid tampil dengan Yamaha PSR 700, Iwang sengaja menggunakan keyboard tersebut sebagai pembuktian motivasi kepada keyboard player, bahwa bermain keyboard tdk harus menggunakan keyboard yg mahal tapi bisa jg main dengan alat murah tapi berbasis teknologi. Pada saat itu Iwang Noorsaid tampil dengan mengunakan Keyboard Yamaha PSR 700 yg di konek ke VST laptop via Midi M-audio.
Pada kesempatan tersebut Iwang juga bereksplorasi dengan keyboardnya dengan sangat atraktif menghasilkan sound-sound keyboard yang garang, kecepatan jari menekan tuts-tuts keyboard sangat luar biasa.

Medio 11 Juli 2008 lalu, Iwang Noorsaid tampil bersama Noor Bersaudara dlm event Jakarta Rock Parade. Saat ini Iwang Noorsaid sedang dlm proses mengerjakan album Solo Piano Jazz yang berisi lagu-lagu instrumental jazz ciptaan Iwang sendiri dan dibantu dengan instrument lain, saat ini sedang dalam proses pemilihan tema musiknya apakah bermain di progresif rock, fusion, etnik atau akustik, atau gabungannya. "Untuk komposisi lagu tidak ada masalah, rencananya ada dua belas lagu yang akan dimasukkan ke dalam album solo tersebut, problem tematik itu akan mengakibatkan kesulitan pada saat bermain karena pemainnya menjadi banyak," ujar Iwang kepada penulis.

Visi dari album ini adalah hiburan yang ada nilai akademisnya, bukan industri, musik itu indah dan untuk kebaikan. Sebelum rilis solo album Iwang, rencananya akan diawali dengan workshop keyboard keliling kota-kota di Indonesia secara gratis (free) mulai Jakarta hingga Bali, Sumut sampai dengan Lampung. Sukses buat Iwang Noorsaid ! [penulis:Jonny Herbart | foto: istimewa]