MAKARA, Pelopor Band Art Metal Indonesia

MakaraMAKARA berdiri tahun 1980 di lingkungan Fakultas Hukum UI meskipun cikal bakalnya sudah dimulai sejak 1978 ketika tekanan pemerintah Orde Baru terhadap kalangan mahasiswa sangat represif. Saat itulah Andy Julias dan Januar Irawan menciptakan lagu Sangkakala yang menyulut semangat muda untuk menentang tirani dan sampai saat ini lagu tersebut, setelah di revitalisasi, masih dibawakan oleh MAKARA dalam aktifitas panggungnya.

MAKARA memang rebellion. Saat kelompok musik lain dipengaruhi musik mainstream fusion jazz-rock, sweet art rock, dan heavy metal, MAKARA memerkenalkan art-metal, suatu konsep yang dipercayai sebagian orang lebih pintar dari heavy metal namun lebih perkasa dari art rock. Saat orang lain sibuk menjadi cover band MAKARA berani membawakan karya sendiri dalam pertunjukan panggungnya. Saat orang lain menciptakan lagu cinta, MAKARA memilih tema sosial. Saat orang lain terpengaruh Guruh Sukarnoputra membuat lirik sansekerta dalam bahasa cinta, MAKARA membuat lirik lugas dan lantang berani mengkritik lingkungan sekitar. Laron-laron tercipta sebagai suatu overview terhadap kegagalan program transmigrasi pemerintah saat itu. Begitu banyak orang datang ke Jakarta tanpa keahlian dan harus menjadi kaum urban kota yang gagal.

Pada saat awal pendiriannya beberapa personel dari lingkungan kampus UI seperti Ikang Fawzi dan Tonny Wenas (Solid 80) sempat bergabung, termasuk juga Denny TR (guitaris) yang saat itu lebih memilih hengkang bergabung dengan Karimata di era Tahun 1983 an. Sepeninggal mereka Harry Mukti (vocal), Adi Adrian (belakangan dikenal sebagai keyboardist Kla), Agus Anhar (guitar) dan Kadri, vocalist berakar jazz pada awalnya dari lingkungan Fakultas Hukum UI yang sempat menggantikan Harry Mukti sebelum akhirnya Harry Mukti kembali bergabung dan menjadikan MAKARA sebagai band rock pertama di Indonesia saat itu yang mempunyai dua ujung tombak vocalist.

Dengan formasi ini MAKARA menguasai panggung rock Jakarta sampai Malang dengan membawakan karya-karya sendiri selain beberapa karya group dunia seperti Saga, Toto dan lainnya dalam porsi kecil. MAKARA saat itu dikenal sebagai band rock generasi kedua setelah generasi God Bless, SAS, Giant Step dan lain-lain. Pada tahun 1984 MAKARA menjuarai Festival Rock Indonesia dan menampilkan Kadri sebagai vocalist terbaik

Pelan tapi pasti, MAKARA melepas album pertamanya pada 1986 dengan hit Laron-Laron karya cipta Andy Julias dan Januar Irawan yang diproduksi oleh ProSound dengan distribusi Billboard yang merupakan salahsatu dari perusahaan rekaman terbesar saat itu. Dalam rekaman tersebut MAKARA dengan bintang komposer Januar Irawan dan Andy Julias melepas sedikitnya dua lagu untuk corak rock dengan idiom tradisional Indonesia. Lagu "Di Dunia Angan" mengangkat sentuhan musik pentatonis Bali sementara pada lagu "Fabel" memasukkan nuansa musik Minang.

Pengaruh group art-rock dunia seperti Genesis dan Saga sangat kuat di MAKARA. Keberadaan dua vocalist Harry Mukti dan Kadri yang mempunyai karakter suara dan aksi panggung berbeda diharapkan memberikan alternative kepada penggemarnya. Agus Anhar yang sangat kuat dengan gaya heavy metal dan penggemar berat Eddy Van Hallen serta Adi Adrian yang kadangkala banyak menyilangkan nuansa art rock atau techno rock memberikan indikasi betapa luasnya wawasan bermusik MAKARA dalam rekaman Album Pertamanya tersebut. Rekaman MAKARA saat itu dianggap sesuatu yang berani dan sangat diperhitungkan oleh musisi rock lainnya saat itu.

Pada 1987 MAKARA manggung untuk terakhir kalinya di suatu panggung rock di Jogjakarta. Kejenuhan membuat MAKARA berhenti berkarya. Harry Mukti vocalist MAKARA hengkang dan bergabung dengan Krakatau. Adi Adrian membentuk Kla Project. Kadri bergabung dengan Once, Kiki Caloh, Eko Partitur, Hayunaji dan Krisna Prameswara di Brawijaya band dan selanjutnya merintis karir menjadi partner di suatu lawfirm corporate lawyer terkenal. Sedangkan Andy Julias merintis kariernya di dunia radio khusus lagu-lagu classic rock dan progressive dan akhirnya membentuk komunitas Indonesian Progressive Society (IPS), tempat bertukar pikiran orang-orang yang memiliki pikiran progesif dan mempunyai kesamaan persepsi terhadap musik, khususnya progressive rock.

MAKARA aktif kembali sejak tahun 2001. Kebangkitan MAKARA kali ini dimotori oleh Andy Julias, Januar Irawan, Agus Anhar dan Kadri. Sayang Januar Irawan harus non-aktif karena kondisi kesehatannya dan Agus Anhar memilih mengundurkan diri. Andy Julias dan Kadri merekrut personel baru dari lingkungan terdekat yang mempunyai visi yang sama.

Ule (Awan Setiawan), dipercaya menjadi bintang komposer baru, selain Andy Julias dan Kadri. Ule terkhir bergabung dengan Adi Adrian dan Lilo dalam kelompok Trend 85 suatu kelompok techno-rock. Saat ini Ule juga menjadi guitarist dan keyboardist MAKARA. Kegiatan sehari-harinya dilakukan diruang studio musik yang dikelolanya yang memungkinkan Ule memiliki cukup waktu bereksperimen ataupun menciptakan karya musik. Gaya bermain Ule sangat dipengaruhi oleh Band Saga dan Night Ranger.

Fadhil Indra, seorang keyboardist senior yang mempunyai pengalaman panggung internasional dengan kelompok Discus nya. Fadhil dipercaya banyak memberikan sentuhan symphonic dalam musik MAKARA sehingga warna band ini menjadi neo-progressive. Fadhil pernah bergabung dengan Sea Serpent dan Medium Rock. Fadhil pernah belajar di Intitut Kesenian Jakarta dan tak heran dia mempunyai fondasi musik yang kuat. Gaya bermain Fadhil terinspirasi dari para komposer di era Romantic yang kemudian dikembangkan dengan nafas dan gaya classic rock ELP, Rick Wakeman mau pun Patrick Moraz.

Kiki Caloh, seorang in-house lawyer lulusan Fakultas Hukum UI yang dikenal Kadri saat bersama di Brawijaya band, dan aktif bersama Andy dalam kepengurusan di organisasi IPS. Kiki bergabung setelah Januar Irawan harus mengundurkan diri karena kondisi kesehatan. Sama halnya dengan Fadhil, Kiki juga merupakan bassist dari Discus. Selain bermain bass Kiki menggeluti juga kegiatan produksi rekaman. Kiki adalah eksekutif produser dari album Discus yang kedua serta album Nirmana dari Cozy Street Corner dan menjadi music producer dari Nerv (grup pop rock progressive dari Bandung yang dimotori oleh seorang pemain violin wanita). Gaya bermain Kiki sangat dipengaruhi oleh banyak genre musik, dengan didominasi oleh pengaruh rock yang kental di setiap jari-jarinya. Dalam setiap permainannya Kiki sering terinspirasikan oleh grup musik King Crimson, Genesis, Magma, dan Samla Mamma Manna, selain tentunya pengaruh dari musisi top dunia seperti Chris Squire, Jaco Pastorius, dan Tony Levin, yang merupakan "all round" magnet dalam gaya permainan Kiki sehari-hari.

Rifki Rachmat, guitarist berbakat yang sebelumnya pernah bergabung dengan beberapa band rock seperti Cyno(Cynomadeus) dan Pendulum sebelum menggantikan posisi Agus Anhar. Tahun 1994-an Rifki sempat tergabung sebagai gitaris di Harry Mukti band bersama Donny Suhendra. Rifki juga merupakan salah satu pengisi album kompilasi “Gitar Klinik 2” produksi RotorCorp/Hemaswara. Gaya bermain Rifki sangat dipengaruhi oleh George Lynch, Dream Theater, Night Ranger, Van Halen, dan Joe Satriani.

Jimmo, vocalist muda berbakat yang pada awalnya dijalur pop dan rock alternative. Jimmo pernah berduet dengan Melly untuk single hit mereka “Pujaan ku” yang menjadi theme song film Eiffel I’m in Love. Jimmo juga aktif membuat lagu untuk Melly. Jimmo bukan kompromi tapi strategi. Jimmo direkrut karena karakter suaranya yang expressive dan diharapkan dapat mengisi low frequency mendampingi Kadri yang bersuara tenor membentuk konsep duo vocalist yang solid. MAKARA percaya rekruitmen Jimmo akan meluaskan pangsa pasar musik MAKARA di kalangan muda.

Dengan demikian formasi terakhir MAKARA adalah Andy Julias (Drummer), Kadri (Vocalist), Ule (Keyboardist dan Guitarist), Fadhil Indra (Keyboardist), Kiki Caloh (Bassist), Rifki Rahmat (Guitarist), dan Jimmo (Vocalist). [sumber:Indonesian Progressive Society]