Margie Segers, Hidupnya Untuk Musik

Margie SegersMargaretha Gertruida Maria atau lebih dikenal dengan nama Margie Segers, dia dijuluki sebagai penyanyi jazz wanita terbaik milik negeri ini, dia sangat hidup jika sudah berada diatas panggung. Sosoknya yang mungil, perasa dan pemberontak ini, memiliki karakter suara ‘khas’ lengkap dengan segala keunikannya adalah menjadi kekuatannya. Penampilannya yang sangat luar biasa dengan mengandalkan keunikannya dengan rambut pendek warna terang adalah style dari DIVA jazz ini. Dia menyanyi dengan suara khasnya, membuat siapa saja yang mendengarnya langsung menebak siapa penyanyinya dan pastinya terpesona menikmati setiap lagu-lagunya. Dia bukan hanya seorang wanita hebat dalam jazz, tapi dia juga adalah wanita yang tidak pernah takut pudar bintangnya. Dia begitu nyaman menikmati hidup ini dengan kemandiriannya, dia menyadarinya dan bisa menerima usianya bukanlah halangan untuk berkarya. Saya jose beruntung bisa cukup dekat menyaksikan penampilannya disebuah event diperbagai tempat, bahkan mendapat kehormatan mendampingi siaran ON AIR distudio PRO 2 FM hasil kerjasama dengan KPMI (Komunitas Pecinta Musik Indonesia), rasanya dia patut untuk kita ketahui perjalanannya.

Pulang ke Indonesia
Margie Segers lahir di Cimahi, 16 Agustus 1950. Ayahnya adalah seorang ‘tentara knil’ dijaman penjajahan Belanda, diusia ‘tujuh’ bulan dia pindah bersama kedua orang tuanya ‘Anton Segers dan Maria Rina Pietersz’ di negeri Belanda. Pada masa remaja, dia sudah tergila2 pada ‘tiga’ unsur musik ini Blues, Slow & Rock dan sangat mengagumi penyanyi Aretra Franklin & James Brown. Bakatnya diturunkan oleh kedua orang tuanya, ibunya adalah seorang penyanyi Gospel dan ayahnya cukup punya nama sebagai penyanyi Kroncong & Hawaian di Belanda. Sebagai penyanyi, dia tidak mendapat pendidikan formal, dia hanya dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya dan dia hanya seorang pemberani yang sangat percaya diri. Kemampuan menyanyinya dibuktikan kepada semua orang di perayaan Paskah & Natal, perayaan Kemerdekaan RI dan Undangan dari kedutaan KBRI Belanda.

Tahun 1968. Dia pertama kali menginjakan kaki ketanah leluhurnya sejak ‘delapan belas’ tahun ditinggalkannya, dia tahu dari mana dia berasal ‘saya merindukan Indonesia’, katanya singkat kepada saya. Sekitar tahun 1969 dan 1971, dia sudah merekam suaranya dalam bentuk plat (Piringan Hitam) di Remaco, sebuah label yang banyak memproduksi rekaman band-band legenda. “Akhir tahun 60an, saya pertama kali bekerja sama dengan Bartje Van Houten merekam lagu yang berjudul ‘Pergi Untuk Kembali’ dan masih menggunakan nama Meity Segers” akunya. Kemudian lagu tersebut cukup memiliki dampak dan pengaruh untuk dikenal setelah rilis kembali pada tahun 1975 dengan menggunakan nama Margie Segers oleh label Purnama.

Tahun 1970. Kemudian dia bergabung di ‘Soul Sexsion’ bersama saudara laki-lakinya Jimmy Segers (juga dikenal sebagai duet ‘Meity & Jimmy ala Rossy Andreas versi Indonesia) dan dua bersaudara Jimmy & Franz Wemay. Kemudian tahun 1971, dia sudah terlibat di kelompok ‘The Abstract’ bersama Fuad Hasan, Minggus Tahitoe, Mardanus & Yoel Crizal merekam album Rock & Blus berisi ‘sepuluh’ lagu , diantaranya ‘Malam Sunyi/cipt.Yoel crizal, Full On The Hill/cipt.John Lennon& George & That’s Life/cipt.Margie Segers. Pada lagu Malam Sunyi, dia mencoba mengekspresikan persaan emosinya dari sebuah ceritra tentang ‘nurani, penantian dan kasih sayang’ yang sebenarnya sangat menyakitkan. Konon, setelah proyek ini usai dia tidak dibayar se-senpun hasil jerih payahnya, dia merasa dilecehkan karena saat itu dia dianggap masih tergolong baru di industri musik ini. Sesudah dia hengkang di The Abstract, dia sudah mendirikan band perempuan ‘Otentic’, group ini beranggotakan Yanti/Gitar, Inneke Nasution/Bass, Lenny Noya/Drum, Meyske/Keyboard, Ninoek Koeswoyo/Lead gitar & Margie Segers/Vokal. Keberadaan group ini memainkan alternatif rock dan berpengaruh kealiran ‘Grand Funk & Heavy Metal’ seperti yang diusung Led Zappelin yang konon tidak pernah dipuji para kritikus karena dianggap terlalu ‘eksperimental dan tidak konvensional’, perjalanan shownya hanya sebatas kota Surabaya, Bandung dan kemudian kelompok rock wanita ini mengalami badai perpecahan dan hanya bertahan ‘satu’ tahun. Personilnya mencari jalan sendiri-sendiri, seperti diketahui Yanti & Inneke Nasution sudah bergabung di ‘Beach Girl’ . Margie Segers berSOLO karir & Ninoek Koeswoyo kemudian asyik menCiptakan lagu Anak-anak untuk Chica Koeswoyo sang keponakan.

Nama ‘Margie’ Yang Membawa Berkah,
Setelah penat bermain band, dia memutuskan mencari suasana baru dan dia menyukai tantangan yang masih berkaitan dengan musik, hal itulah membuat dia merasa nyaman untuk terus dilakukannya. Sampai akhirnya dia mengejar karir berkelana dari satu night club ke night club lainnya dan masih menggunakan nama Meity Segers. Berkat nama ‘Margie Segers’, nama pemberian dari Drs Purnomo (Mang Udel) dan Jack Lesmana menjadi dikenal masyarakat. Nama ini memiliki sejarah yang dia tidak bisa melupakannya. Ke ‘dua’ orang ini berinisiatif menggunakan nama Margie memang mengacu dari nama depannya ‘Margaretha’ yang ‘bau’ Latin. Mang Udel & Jack Lesmana sangat mengagumi ke elokan suaranya namun tidak diimbangi dengan nama komersial, kenyataannya nama tersebut (Margie) ‘kelak’ memang membawa hoky. Pada awalnya dia sempat ragu menggunakan nama tersebut, karena nama Meity adalah nama yang sudah dipakai pada awal karirnya. Tapi keyakinan dari kedua orang inilah membuat dia bertahan dengan nama tersebut, ternyata terbukti membawa berkah, enak didengar dan melesat menjadi salah seorang penyanyi jazz wanita papan atas.

Ihwal Margie Segers bekerja (penyanyi) di ‘dua’ night club ini ‘LCC & FLAMINGGO’, saat itu dia berhasrat keras ingin menaklukan kedua nicght club tersebut. Seperti diketahui banyak orang, sebagian penyanyi Indonesia mengalami kendala menembus di night club ini karena harus melewati proses yang panjang dahulu. Tapi dia memang luar biasa mampu membuktikan dengan ‘telak’ bisa bersanding dengan penyanyi seniornya seperti ‘Deddy Damhudy,Novel (Bapak Puput Novel) , Koes Hendratmo,Idris Sardi, Enteng Tanamal, Kiboud Maulana, Benny Mustafa, Aida Mustafa, Vivi Sumanti, Anna Mathovani dan Tanty Josepha. Singkat ceritra dia mengenyam apa yang dinamakan sukses, dia masuk kedalam daftar ‘wajib’ dan telah menjadi bagian penting ditunggu kehadirannya sebagai penghibur. Ini menunjukan bahwa suaranya dapat merubah segalanya menjadi mempesona sehingga para pemuja fanatiknya enggan untuk beranjak dari duduknya. Tahun 1974-1975-1976 & 1980 menjadi saat bersejarah bagi Margie, kehadirannya sebagai Finalis Festival Jazz & lagu populer Tingkat jakarta maupun Nasional, dia menunjukan kualitasnya mampu menyamai semangat srikandi-srikandi Macan Festival seperti: Hetty Koes Endang & Grace Simon. Penampilannya patut diacungi jempol justru pada saat membayangi penyanyi Melky Goeslow yang meraih juara I dan dia sebagai runner up untuk lagu ‘Pergi Untuk kembali’ pada ajang serupa ditahun 1975 & menjadi juara Nasional di Festival Jazz berulang kali.

Di Lamar Jack Lesmana,
Penampilannya diacara Televisi maupun secara Live di Jakarta Fair (sekarang PRJ), baik sebagai penyanyi solo maupun bersama dengan kelompoknya menjadi perhatian seorang pemusik jazz kawakan, Jack Lesmana. Rupanya om Jack mengetahui potensi Margie Segers ‘baginya’ segalanya sangat menarik dimatanya ‘ini benar-benar temuan yang unik’ ungkap jack Lesmana. Akibat kerja keras dan kesempurnaannya, mudah ditebak dia sudah bergabung diacara jazz yang diasuh om Jack & Istrinya Nien Lesmana “ Nada & Improvisasi” bersama teman2 sejawatnya ‘Broery Pesolima, Mona Sitompul, Noor Bersaudara, Rien Djamain, Melky Goeslow, Robert de Pretes, Purnama Sultan, Ati Pramono, dll. Atas saran om Jack, dia masih sering tampil bernyanyi di night club ‘Om Jack yang sudah saya anggap seperti ‘bapak (papie)angkat’, menginginkan saya dapat mempelajari tentang bagaimana mencapai penyatuan diri dengan lingkungan itu dan sebagai pelatihan pada fibra suara saya agar memiliki identitas’ demikian akunya. Sebagai seorang penyanyi yang mendapat gemblengan dari sang maestro jazz harusnya Margie mersa tersanjung terpilih menjadi salah satu anak didiknya dan bukankah om Jack sudah menganggapnya sebagai anak sendiri?. Jawabannya: ‘Setiap hari hanya omelan dan derai air mata saya saja yang tumpah, setiap mau keluar dari aliran musik lain tidak boleh kecuali jazz, papie Jack suka meminta saya bawa plat (PH) dari penyanyi ‘Diana Wasington, Nancy Wilson & Billy Holiday’ untuk didengar... sementara saya waktu itu masih berusia ‘delapan belas’ tahun sedang suka2nya mendengar musik dari ‘Black Singers, Nina Samone, Tina Turner,Otis Redding, Wilson Picket, Bob Dylan,Joan Baez, The Temptation, Tom Jones & Aretra Franklin’, ungkapnya. Kemudian dia melanjutkan ceritranya ‘Kalau sudah demikian terdapat perlawanan dari saya ‘beberapa hari tidak kerumah papie Jack’, namun hanya ‘dua’ hari bertahan, papie jack menyuruh orang memanggil saya yang kebetulan rumah kami tidak berjauhan.. nangisnya sudah puas y?, kata papie Jack, kalau sudah demikian biasanya tante Nien membela saya ‘sudahlah Jack... kamu jangan gitulah’ atau sesekali om Benny Likumahua menasehati saya ‘papie Jack itu maksudnya baik loh non (nona).. biar kamu punya ciri khas dan nantinya tetap dikenal sebagai Margie Segers’. Sampai akhirnya saya segera menyadarinya dan tidak lagi mengedepankan ego saya, bahwa maksud papie Jack adalah benar-benar ingin mengorbitkan saya sebagai penyanyi jazz dan *Verder niet (selain dari itu tidak pake embel-embel-Bhs Belanda).

Tidak lama kemudian, tepatnya 7 Nopember 1975 beredarlah rekaman kaset jazz yang pertama di Indonesia dibawakan oleh Margie Segers. Debut albumnya ‘Semua Bisa Bilang /cipt. Charles Hutagalung, adalah pembuktiannya kepada sang guru (om Jack) bahwa Margie Segers bukanlah penyanyi kacangan.

Hasil terciptanya rekaman ini, bermula dari kolaborasi om Jack dan Benny Likumahua suka mengubah berbagai hal selama proses rekaman tanpa melanggar peraturan2 dari makna lagu itu sendiri "kebiasaan papie (0m) Jack & Benny Liku (Likumahua) adalah bermain pada Gitarnya, saat kami bernyanyi dengannya dan secara 'mendadak' pilihannya jatuh pada lagu itu". Hebatnya lagi, lagu ini adalah hasil dari mengutak-atik lagu yang pernah dipopulerkan The Mercy's, dari mulai musik sampai dengan aransemen dirubah total oleh om Jack & Benny Liku. Kepiawaian kedua orang inii dalam hal memasukkan roh Jazz pada lagu ini tidak terasa kaku justru musiknya begitu nyaman sehingga kita hanya duduk manis mendengarnya dan tidak perlu mempertanyakannya lagi. Tapi ada saja suara sumbang diluar sana (Media & Pengamat Musik), tentunya sangat tidak menerima dengan memasukan ide-ide gila seperti itu yang menurutnya "menjadikan lagu tersebut semakin amburadul bentuknya". Pertanyaan diluar sana, hanya diijawab singkat dalam bahasa Belanda * 'geen komentar' dengan kata lain bahwa jika kita tetap berpegang pada prinsif lama dan tidak memahami dengan apa yang sedang digandrungi dimasa datang, niscaya perjalanan tersebut akan stop dan tak akan bisa * 'eeuwig behouden'.

Jack Lesmanaa, Bubi Chen, Benny LIkumahuwa, Benny Mustafa, Jopie Reinhard Item, Rully Djohan, Trisno, Wempy Tanasale, Karim Suweileh, Ule & Perry Pattiselano adalah musisi2 'Qualified' yang tidak gampang disatukan, padahal tidak seorangpun dari musisi ini pernah bekerjasama secara serempak. Mereka inilah yang kemudian secara khusus mengiringi Marie Segers menghasilkan rekaman2 di Label Hidayat seperti: Semua Bisa Bilang (vol,1) & Terpikat (vol.2). Album ini betul2 gambaran dirinya, dia bisa begitu cepat menyatu dengan musik jazz yang baru disukainya dengan ke ikhlasan hatinya.

Setelah wafatnya Jack Lesmana, banyak yang meragukan kemampuan anak didiknya ini, apakah sepeninggal sang maestro dia bisa sukses melebihi dari yang sudah dicapanya. Kenyataannya dia semakin cemerlang bagai batu 'Berlian', semakin digosok akan memancarkan kilauannya dan tak akan pudar termakan zaman. Kini dia masih seperti 'Berlian' yang berkilau dalam dirinya walau usia masih membebaninya, tapi dia mempunyai semangat untuk bertahan begitu lama melakukan banyak hal dalam jazz.

Dia sudah bertahun2 di depan umum, menyanyikan lagu dengan cara yang tak terbayangkan oleh kita, dia bisa menyanyikan apa saja, termasuk Blues, jazz, Rock & Pop. Namun kecintaannya pada musik jazz dibuktikannya hingga saat ini, dia masih membuat terobosan dengan berkolaborasi dengan pemusik2 jazz lainnya seperti; Jopie Item, Ireng maulana, Idang Rasjidi, & Mus Mudjiono menyelesaikan rekaman2 jazz yang setia menantinya dan tak lagi memikirkan komersialnya. Margie Segers adalah teladan yang bagus untuk menjadi 'ikon', sebab dia tidak akan berhenti mangAkhiri karirnya tapi dia akan selalu memulai karirnya mengikuti kata hatinya, karena dia diBerkati Tuhan dalam perjalanan keHidupannya. Amiiin....... [http://josechoalinge-situs.blogspot.com]