MataDewa, Ketika Dua Mantan Personel Dewa 19 Bersatu Lagi

Selasa, 29 September 2009
MataDewa, Ketika Dua Mantan Personel Dewa 19 Bersatu Lagi

Masih ingat nama Erwin Prasetyo, bassis yang pernah memperkuat Dewa 19 hingga album ke tujuh ? Atau Wawan Juniarso, sang drummer yang berkontribusi pada debut album Dewa 19? Kini mereka hadir lagi dengan mengusung sebuah band baru bernama MataDewa.

Berawal dari keinginan Erwin untuk kembali dalam kancah industri musik Indonesia yang disambut oleh Wawan yang kebetulan memiliki keinginan serupa, maka sejak pertengahan hingga akhir tahun 2008, duo ini mulai sibuk merampungkan materi-materi bagi band barunya tersebut. Nama yang dipilih sebagai pelurunya adalah Matadewa, yang diambil dari sebuah singkatan Mantan Anggota Dewa. Dibalik merk tersebut, Erwin dan Wawan sama sekali tidak berpikir untuk mencoba membuka persaingan baru dengan mantan band lamanya. Ini benar-benar murni curahan ekspresi karya yang tulus dengan nafas barunya.

Pembentukan Matadewa sendiri tergolong lama. Setelah mengumpulkan materi lagu yang cukup banyak, akhirnya Erwin dan Wawan membuka audisi tertutup untuk mencari vokalis. Sekitar sepuluh dari para calon vokalis masuk pada proses audisi dan akhirnya terpilih Robi, seorang pemuda asal Jawa Barat yang berhak duduk di kursi panas vokalis Mata Dewa. “Sedari awal intuisi saya mengatakan kalau Robi ini kandidat yang kuat dan ternyata intuisi saya benar”, ujar Erwin. Menurut Erwin, Robi memiliki karakter yang begitu polos dan yang terpenting ia dapat bernyanyi dengan baik.

Tanpa menghabiskan waktu panjang dan berbekal data lagu yang sudah ada, Matadewa segera memasuki dapur rekaman untuk merampungkan karya-karyanya. Dalam waktu kurang lebih tiga bulan termasuk proses mixing dan mastering, akhirnya maha karya yang diberi titel Matadewa itu pun siap untuk dihidangkan dengan dukungan penuh dari WayBe Music Indonesia.

Dengan tawaran nuansa pop rock yang begitu unik, berkarakter dan easy listening, Matadewa siap meraih perhatian di bursa musik. Nuansa kesederhanaan berbasis balada, dikombinasikan dengan setruman synthesizer, ditambah peran komposisi string yang dilakukan Erwin sendiri, tentunya adalah sebuah tawaran yang baru dan fresh.

Turun tangannya Erwin dalam penciptaan lirik adalah sebuah gebrakan baru. Ia pun mengaku kalau tema dalam debutnya ini lebih bersifat global. Contohnya, untuk single pertama yang berjudul ‘Sehidup Semati”, disini Erwin membicarakan konteks cinta antara manusia dengan alam, dimana posisi manusia dan bumi yang harus saling membutuhkan dan menjaga. Potongan lirik ‘dirimu adalah takdirku’ menandakan bahwa hubungan ini memang tidak bisa dilepaskan satu sama lain begitu saja dan Erwin berpendapat kalau tema ini pun bisa dikorelasikan dengan hubungan antar manusia.

Lagu-lagu lainnya yang menarik seperti “Aku Dan Laguku” merupakan sebuah lagu yang didedikasikan kepada istri Erwin tercinta. Tembang “Jamilah” juga memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri. Belum lagi suguhan lagu yang dinyanyikan sendiri oleh Erwin pada “Cintamu Cintaku”, terbukti memiliki kekuatan yang begitu berpengaruh, yakni sempat menjadi lagu andalan ketika beberapa teman musisi telah mendengarkannya.

Nampaknya banyak kejutan yang ditawarkan dalam album ini. Lagu hit Dewa “Restu Bumi” yang merupakan ciptaan Erwin sendiri ternyata ada didalam list. Namun dengan menanggalkan judul dan lirik karya Ahmad Dhani dan menggantikannya lewat judul dan lirik anyar “Nikmatilah Diriku”. Dan adanya kejutan-kejutan spesial lainnya dalam debut Matadewa, makin melenggangkan langkah awal trio ini untuk segera dapat merebut hati seluruh pecinta musik tanah air. “Semoga penggemar dan pencinta musik Matadewa atau pun para fans Dewa sekalipun diharapkan bisa menerima album ini apa adanya tanpa bermaksud menyaingi siapapun”, kilah Erwin lagi.

Matadewa adalah sebuah babak baru bagi industri musik Indonesia yang tidak dapat diremehkan begitu saja. Mengingat, para maestro dibalik nama Matadewa inilah yang meramu formula musikalitas nan begitu apik dan tentunya sangat memikat. (pr/bug)

comments powered by Disqus