Gara-gara pembajakan banyak produser musik yang merugi, bahkan sampai bangkrut. "Pelanggaran hak cipta berupa transfer lagu dari komputer ke telepon seluler membuat cukup banyak produser yang bangkrut karena hasil penjualan album tidak sesuai harapan," kata Ketua Persatuan Artis, Musisi, Pencipta dan Insan Musik (Pramusti) Bali I Gusti Ngurah Murthana di Denpasar, Sabtu lalu.

Menurutnya, beberapa perusahaan rekaman yang biasa memproduseri musisi menolak untuk melakukan kerja sama karena takut merugi. Apalagi mereka  melihat penurunan penjualan album-album lain  yang kondisinya sudah cukup parah dalam beberapa tahun terakhir.

"Saat ini penjualan album hanya mencapai ribuan copy, bahkan untuk mencapai penjualan album sebanyak 2.000 copy saja dalam setahun sangat susah," ujar pria yang akrab dipanggil Rahma tersebut.

Dia menjelaskan, sejak saat itu terjadi penurunan penjualan sampai 500 persen, lanjut dia, penyebabnya adalah perkembangan teknologi dan pembajakan kaset.

 Kondisi tersebut, ungkap Rahma, membuat sebagian musisi menjadi meredup bintangnya sehingga membuat banyak yang tidak aktif berkarya atau malah beralih profesi ke bidang lain.

"Namun tetap masih ada musisi yang masih bertahan dan tetap aktif untuk mempertahankan eksistensi musik pop berbahasa Bali tersebut," katanya.

Menurut Rahma, meski terjadi keterpurukan penjualan album tidak membuat para anggotanya yang masih aktif itu pasrah dan kalah semangat, terbukti masih ada juga yang meluncurkan album. [ant/it1]