Pengamat Musik: Musik Dangdut "Tenggelamkan" Gambang Kromong

Selasa, 4 Februari 2014

Bila jaman dulu Gambang Kromong menjadi hiburan yang digemari masyarakat Betawi, saat ini justru pertunjukan musik dangdutlah yang dinanti di acara-acara tertentu.

Menurut Priyanto Chang, pencetus Gambang Peranakan dan Pemilik Grup Musik Klasik Tiongkok Nanfeng Nusantara, permintaan Gambang Kromong semakin berkurang dibandingkan musik Dangdut.

"Saat acara pernikahan memang masih ada, tapi hanya saat prosesi adatnya saja. Saat memasuki bagian hiburan langsung pengunjung mintanya dangdut," ujarnya setelah penampilan Gambang Peranakan Nanfeng Nusantara di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Minggu (2/2).

Kondisi ini menjadi dilema bagi para musisi Gambang Kromong. Mereka pun banyak yang memilih mengikuti kemauan masyarakat karena butuh uang untuk bertahan hidup.

"Hal ini juga dialami oleh musisi klasik Tiongkok. Alat musik tradisional Tiongkok juga jadi seperti milik orang tua saja. Arus modern yang menuntut kita harus mengembangkan musik tradisional atau klasik ini," lanjut Priyanto.

Alasan-alasan tersebutlah yang membuat Priyanto mencetuskan kolaborasi musik klasik Tiongkok dan Gambang Kromong dengan sentuhan modern. Kolaborasi tersebut dinamakannya Gambang Peranakan.

"Saya ingin menaikan derajat musik klasik Tiongkok dan Gambang Kromong serta membuatnya diterima di masyarakat. Saya ingin kedepannya Gambang Peranakan bisa seperti Gamelan Jawa yang dimasyarakatkan oleh acara OVJ," tuturnya.

Dilanjutkannya, saat ini anak-anak muda pun antusiasmenya untuk mengenal alat musik tradisional sangat kurang. Priyanto mengatakan tidak mudah membujuk mereka untuk belajar alat musik tradisional.

"Memang anggota yang berusia muda di Nanfeng Nusantara cukup mendominasi. Namun, saya harus memberikan misi atau iming-iming ke mereka agar mereka mau belajar. Saya katakan kita akan pentas disatu tempat tertentu atau alasan lain agar mereka ingin belajar," katanya.

Menurutnya, bila hanya meminta mereka belajar tanpa tujuan yang jelas, mereka cenderung tidak semangat.

Padahal menurutnya, tingkat kesulitan belajar alat musik tradisional seperti kecapi atau pipa (gitar tiongkok) sama saja seperti belajar alat musik modern seperti keyboard atau gitar listrik. [beritasatu/c2]

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini