Kla Project: Musikalitas Musisi Indonesia Semakin Anjlok

Senin, 1 Desember 2014

Musik legendaris Indonesia, Kla Project, mengaku sedih dengan musikalitas mayoritas musikus Indonesia yang semakin menurun. Penurunan kualitas tersebut merupakan konsekuensi lesunya industri musik di dalam negeri pada beberapa tahun belakangan ini.

Bahkan pemain keyboard dari grup yang mulai aktif di belantika musik Indonesia pada 1989 ini, Adi Adrian, mengatakan kondisi suram industri musik pada saat ini mengingatkannya pada situasi di akhir dekade 1980-an. Di saat itu, pria berkacamata minus tersebut mengisahkan industri musik Indonesia disesaki musik-musik pop cengeng yang dinilai lebih laku di masyarakat.

“Sekarang kita sudah tertinggal jauh dengan bunyi-bunyian yang dihasilkan musikus-musikus luar negeri,“ kata Adi di Hotel Ro yal Ambarukmo, Jumat (28/11) petang, saat jumpa pers menjelang konser Kla Project yang bertajuk Romansa di DI Yogyakarta, Sabtu (29/11) malam.

Adi mengakui bahwa industri musik di dalam negeri telat mengantisipasi datangnya era musik digital. Di era digital, masyarakat lebih suka mengunduh lagu-lagu terkenal dari jalur daring secara ilegal. Fenomena itu bermuara pada semakin malasnya musisi lokal kita mengeluarkan album musik.

“Musisi semakin takut albumnya tidak laku dijual karena pembajakan lagu semakin mudah,“ sebut Adi.

Kalaupun merilis album, para musikus tidak menggarap serius albumnya seperti dahulu.

Kendati banyak musikus lokal gentar merilis album baru, Kla Project yang kini beranggotakan Katon Bagaskara (vokal), Lilo (Romulo Radjadin-gitar), dan Adi tetap berani merilis album baru. Album bertajuk Grand Klakustik tersebut baru saja dirilis pada November lalu.

Yang membanggakan, timpal Katon, Kla berani mengeluarkan album dalam bentuk fisik format compact disk (CD) kendati berbiaya besar.

“Kami bangga masih berani mengeluarkan album dalam bentuk fisik, karena hal itu bukan hal yang gampang sekarang,“ timpal sang vokalis.

Pada kesempatan itu, Adi juga menambahkan, industri musik Indonesia saat ini beruntung karena diselamatkan dunia pertunjukan hiburan di televisi. Lantaran industri musik saat ini ditopang oleh sejumlah acara hiburan di televisi, para musikus muda memilih mengeluarkan singel daripada album.

“Tujuannya, mereka bisa terus diundang ke variety show di televisi agar eksis,“ imbuh dia.

Di Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo Yogyakarta itu, KLa Project sukses mengobati kerinduan para penggemarnya di Yogyakarta. Setidaknya 12 lagu mampu membuai penonton dalam buaian kisah romantis berlatar historis.

Tembang seperti "Satu Kayuh Berdua", "Terkenang", "Menjemput Impian", "Pasir Putih", dan "Terpurukku" dapat mengobati para "KlaNese", julukan penggemar Kla Project, yang sudah lama tidak melihat konser Kla dengan personel lengkap.

Musik yang dihadirkan Kla Project pun terasa sedikit berbeda dengan munculnya permainan biola, saksofon, dan flute dari additional players. “Mari kita nyanyi bersama-sama,“ kata Katon mengajak penonton untuk larut da lam musik yang dihadirkan.

“Saya ingat betul saat pertama kali main di Yogya. Penontonnya tepuk tangan dan bilang lumayan. Di konser malam ini, banyak wajah yang familier. Ada yang datang dari Purwokerto, Nganjuk, Pati, dan Jakarta juga,“ ujar Katon. [ant/c2/foto:istimewa]

comments powered by Disqus