Dua Band Bali Gelar Tur Tolak Reklamasi

Kamis, 17 Desember 2015

Rencana reklamasi teluk Benoa Bali terus mendapat penolakan. Setelah  band Superman Is Dead yang gencar melakukan kampanye, kini dua band asal pulau Dewata  The Bullhead (TBH) dan Suitcase For Kennedy (SFK)  menyuarakan isu lingkungan melalui  ajang Hantarapi-Guerrilla Tour 2015.

Diawali dengan Tur perdana kolaborasi dua band ini di Godbless Cafe, Sawojajar Malang, Rabu malam, 16 Desember 2015. Rencannya  akan dilanjutkan hingga 5 kota besar di Indonesia.  "Tur lima kota, Malang Kota pertama,"  ujar  vokalis The Bullhead, Ida Bagus Gede Naradivta,  Kamis 17 Desember 2017.

Mereka  mengajaknya masyarakat  untuk turut berperan serta menolak reklamasi pantai. "Berkedok revitalisasi. Gerakan ForBALI atau Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa memasuki tahun ketiga," ujarnya.

Naradivta yang akrab disapa Copok menjelaskan makna “Hantarapi” yang berarti menggelorakan semangat perlawanan. Mereka juga menggelar lapak edukasi yang menjelaskan perlawanan warga Bali menolak reklamasi Teluk Benoa. Reklamasi seluas 700 hektare oleh PT Tirta Wahana Bali Internasional bakal mengancam kelestarian lingkungan.

“Kami jelaskan kepada setiap orang yang datang ke konser," ujarnya. Rencananya investor akan menguruk lauk Teluk Benoa. Warga Malang berjubel untuk mendapat informasi seputar Teluk Benoa. Mereka bersama-sama mengikuti lagu "Bali Tolak Reklamasi."

Sejumlah band asal Malang ikut memeriahkan konser. Seperti Anniverscary, As Merry As Criket, The Classic Ska, Nosegrind, Steppin Stone, dan Rebel In Saint. Bahkan Begundal Lowokwaru, band legendaris Malang, ikut meramaikan acara dengan menyumbangkan beberapa lagu.

“Kita apresiasi kawan dari Bali yang berani menyuarakan isu reklamasi dalam turnya,” kata vokalis Begundal Lowokwaru, Cipeng. Panitia Edge Party, Risky Ade Saputra mengaku konser digelar secara kolektif menyambut tur hantarapi.

Selain itu juga untuk menggemakan isu lingkungan Teluk Benoa. Termasuk isu lingkungan di sekitar Malang seperti revitalisasi Hutan Kota Malabar yang ditolak para seniman dan aktivis lingkungan. "Isu lingkungan menjadi isu bersama," ujarnya. [tempo/foto:istimewa]

comments powered by Disqus