Sylvia Saartje; Lady Rocker Pertama Indonesia

Jika ditanya siapa rocker wanita era 70-an? Jawabannya mungkin hanya satu, Sylvia Saartje. Jauh sebelum dikenal dengan istilah Lady Rocker di Indonesia, Sylvia Saartje bisa dibilang sebagai pembuka jalan. Maka para follower Lady Rocker setelahnya, seharusnya berterima kasih kepada perempuan berdarah Belanda-Maluku ini. Karena setelahnya, bermunculan puluhan penyanyi wanita yang meretas jalan yang sama dengannya, seperti  Nicky Astria, Mel Shandy, Atiek CB, hingga Euis Darliah.

Sylvia Saartje dilahirkan  di sebuah kota kecil Arnhem-Belanda, 15 September 1957. Minatnya terhadap musik rock begitu kuat. Sejumlah Repertoar dari band ternama kala itu, seperti Led Zeppelin, Pink floyd, hingga mendiang Janis Joplin sukses dibawakan cewek ini.

Bahkan, dalam sebuah kesempatan tampil di kampus Universitas Padjajaran-Bandung tahun 1974, Sylvia Saartje mendapat sambutan meriah setelah melantunkan "The Great Gig in The Sky" milik band progresif rock legendaris, Pink Floyd dari album masterpiece-nya "DarkSide of The Moon". Majalah musik dalam negeri kala itu, Aktuil, bahkan melabelkan Sylvia Saartje sebagai penyanyi rock wanita pertama Indonesia usai tampil dalam panggung Vacany Rock di kota kembang itu.

Album dalam review kali ini, "Jakarta Blue Jean ku" merupakan salah satu album dari kesepuluh album milik Sylvia Saartje. Berisi 11 lagu berirama pop rock dengan beberapa yang di variasikan dengan musik disko yang kala itu digemari muda-mudi Jakarta.

Tembang yang menjadi label album ini, "Jakarta Blue Jeans ku" karya Almarhum Farid Hardja sukses dibawakan Sylvia Saartje. Pola pembawaan Sylvia yang inginnya teriak sangat kental sekali terdengar dalam album ini. Sebetulnya tembang yang sempat menjadi hits ini bisa dibawakan dengan slow dan nada rendah. Pasalnya komposisi musik digarap sudah meriah dengan model loop-loop ringan.

Tidak kalah kerennya tembang kedua,"Damailah Kau Disana" karya Aribowo. Garapan musiknya sederhana, dengan paduan Gitar dan keyboards namun, kepiawaian Sylvia menyanyikan menjadikan nilai lagu ini lebih berbobot.

Yang tidak disangka adalah tembang MR Radio yang lebih didominasi irama disko. Maklum saja, lagu ciptaan Emier Hassany, dinilai bisa lebih dijual karena fenomena aliran musik jojing ini sedang digandrungi anak muda di Ibukota. Dengan intro suara radio, dan disusul dengan teriakan Sylvia menjadi nilai kreatif untuk lagu ini. Namun sayang, diganggu dengan cukilan reff lagu kelompok musik The Beatles yang disisipan pada pertengahan lagu. 

Memang benar jika ada yang bilang, musik rock era 70-an banyak dipengaruhi musiknya super band Led Zeppelin dan Deep Purple, ini juga yang terdengar pada tembang "Kembalilah" karya Farid Harja  juga pada lagu "Hujan" hasil karya Hassany.

Satu lagu karya Eddy CJ,bertitel "Gairahkan" mengusung irama Jazz. Oleh sang penciptanya, tembang ini diawali dengan  nuansa Pop. Sylvia Saartje bahkan keluar dengan false-nya  pada intro. Tapi lagi-lagi pada pertengahan lagu, keluarlah suara aseli Sylvia yang melengkig dengan paduan keyboard  sehingga membuat selaras irama musiknya. 

Jika anda ingin menikmati alunan Janis Joplin-nya Indonesia, pada lagu "Seandainya" dibawakan dengan sukses oleh Sylvia Saartje. Hentakan pada intro lagu diikuti dengan petikan gitar berintonasi lambat menjadikan lagu ini nge-blues abis.

Selain piawai dalam menyanyikan lagu, Sylvia juga pandai bermain seni peran. Beberapa film sempat dibintangi, diantaranya Tangan Besi (PT Garuda film tahun 1972), Barang Antik (PT Kalimantan Film tahun 1983), gerhana (PT Inem Film  tahun 1985) dan Kodrat (PT Multi Permai Film tahun 1986).

Album dibawah label PT Irama Tara Jakarta ini layak menjadi koleksi  para penggemar musik Indonesia, wabil khusus penggemar rock wanita. Karena, bisa dibilang Sylvia merupakan  penyanyi rock wanita pertama di Indonesia. [lyz/iims/it,cover: koleksi pribadi]
comments powered by Disqus