Guruh, Musik dan Kecintaan TerhadapTanah Air
Merekam jejak karya putra kelima pasangang Presiden RI pertama, Ir Soekarno dan Fatmawati, belum lengkap bila tak membahas album "Untukmu Indonesiaku" yang dilansir tahun 1980. Sebab, album berisi sepuluh lagu ini syarat dengan pesan Guruh Soekarno Putra sebagai "penyambung lidah" ayahnya, khususnya tentang "cinta negara" dan "pemuda". Guruh yang juga motor dari kelompok seni anak muda "Suara Mahardhika" menggaet sejumlah musisi seperti Chandra Darusman, Franki Raden dan Elfa Secoria sebagai penata musik (arranger).
Keseriusan Guruh Soekarno Putra menggarap album ini memang patut diacungi jempol, Guruh yang pernah membuat album perdana yang fenomenal "Guruh Gipsy", ini menggandeng orkes dari Jepang "Tokyo Philharmonic Orchestra" dibawah konduktor Shigenobu Tamaoka dan Koshiro Nishida. Proses rekaman album ini juga dilakukan di dua tempat yakni Tokyo-Jepang dan Jakarta-Indonesia.
Hasilnya? Lewat "tangan dingin" Guruh, nuansa musik dalam album ini menjadi sangat "berbeda". Sebelumnya, Guruh juga pernah membuat "heboh" panggung musik Indonesia dengan karyanya yang berupaya menggambungkan nuansa musik barat (progressive rock) dengan alunan suara gamelan Bali dan terekam dalam "Guruh Gipsy-Guruh Gipsy" tahun 1976.
Diawali dengan "Keranjingan Disko", Guruh memoles tembang ini dengan sangat apik. Dengan iringan "Tokyo Philharmonic Orchestra" dan sentuhan kreatif Chandra Darusman lagu ini menjadi ciamik. Nuansa kental disko dengan beat-beat cepat dipadu dengan suara orchestra menjadi terobosan baru bermusik saat itu. Pilihan Guruh kepada Johny Leweurisa untuk menyanyikan lagu ini sangat tepat. Dengan vokal yang "datar" dan "empuk" Johny membawakannya dengan sangat enjoy.
Di tembang kedua "Halo Jakarta", Guruh juga melakukan eksperimen musik dengan menggabungkan musik Jazz yang disisipi alunan musik tradisional seperti dalam iringan lagu "Jali-Jali" yang dibawakan secara apik oleh duet vokal Louise dan Rizali. Lirik lagu kecintaan dan kerinduan terhadap Jakarta kabarnya terinsipirasi dari rasa rindu Guruh terhadap ibukota yang membesarkannya saat menuntun ilmu di University Van Amsterdam (Belanda) tahun 1974. "Halo ! Halo Jakarta!/Ibukota negara kita/Halo! Halo Jakarta ! Ibukota Indonesia/Kesanalah harapan kucurahkan/Mencapai cita-cita/Disana angan-angan kutempatkan/Menjawab tuntutan Zaman...
Kenyataan berbeda, Jakarta yang dahulu berbeda dengan saat terakhir Guruh hijrah ke Belanda. Dilagu "Jenuh", Guruh Soekarno Putra mengutarakan kekecewaannya terhadap Jakarta yang mulai berubah. Keramaian lalu-lintas dan sikap makin acuh warganya membuat semuanya "Jenuh". Guruh memilih Ahmad Albar untuk membawakanya. Untung, pentolan grup band rock "God Bless" ini sanggup mengikuti keinginan Guruh yang menawarkan lagu dengan tempo nada yang cukup sulit, pasalnya ada beberapa penggalan lagu yang mengharuskan Ahmad Albar menyelaraskan suaranya dengan tempo musik untuk menjadi pas.
Kecintaannya terhadap Ibunda, Fatmawati, Guruh menuliskan lagu "Melati Suci" yang dibawakan secara sempurna oleh Tika Bisono. Vokal Tika Bisono yang bening, seakan tanpa disktorsi, melengkapi kesyahduan lagu ini. Kelompok Tokyo Philharmonic Orchestra yang mengiringinya menjadikan lagu ini layaknya dalam situasi pagelaran orkestra yang menyanyikan lagu Hymne.
Satu tembang berbahasa Inggris dihadirkan Guruh yang mengutip syair dari bait puisi "Sitor Situmorang", "To May Friends on Legian Beach" dan Chrisye dipercayakan untuk membawakan lagu ini. Suara Chrisye yang merdu ditambah dengan alunan "Tokyo Philharmonic Orchestra" menjadikan tembang ini sangat berkarakter.
Album ini bisa dibilang bagian dari "serpihan" perjalanan musikal seorang Guruh Soekarno Putra. Totalitas bermusik, kecintaan terhadap seni, tanah air dan permasalahan bangsa dijawab dengan caranya sendiri, yakni dengan musik. Harapan Guruh mirip dengan keinginan ayahnya untuk terus memberikan sumbangsih kepada bangsa ini. Bagi Guruh kesenian diciptakan Sang Pencipta sebagai kekuatan yang Mahasakti dan Suci, oleh karenanya dia ingin memberikan sesuatu kepada bangsa ini, dan mediumnya lewat bidang seni musik dan tari (lewat Suara Mahardhika). Tentu kita sangat berharap Guruh Soekarno Putra bisa kembali ke "pentas" setelah lebih dari sepuluh tahun tak berkarya. [lysthano@yahoo.co.uk/foto:musica]